Pelalawan Menuju Kota Aren Membangun Ekosistem Ekonomi Aren dari Hulu hingga Hilir

0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

PELALAWAN, RBO — Gagasan menjadikan Kabupaten Pelalawan sebagai “Kota Aren” perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai program penanaman pohon atau slogan pembangunan, tetapi sebagai sebuah grand design ekonomi kerakyatan yang dikelola secara serius dari hulu hingga hilir.

Masyarakat intelektual muda Pelalawan, Maruli Silaban, SH, menilai potensi tanaman aren sangat besar untuk dikembangkan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Namun, menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada tata kelola, kelembagaan, teknologi pengolahan, hingga kepastian pasar.

“Kalau Pelalawan ingin menjadi Kota Aren, jangan berhenti pada menanam. Kita harus membangun ekosistemnya dari hulu sampai hilir. Petani harus mendapatkan manfaat, produk harus memiliki nilai tambah, dan pemerintah harus memastikan pasarnya,” ujar Maruli, Rabu (9/9/2026).

Menurut Maruli, tahap pertama yang harus diperkuat adalah sektor hulu. Pemerintah daerah perlu menyiapkan bibit aren unggul, kawasan pengembangan, pendampingan petani, teknologi budidaya, serta kepastian perlindungan dan pemasaran hasil produksi.

Pengembangan juga perlu berbasis kawasan sehingga tidak dilakukan secara sporadis. Pemerintah dapat menentukan sentra-sentra aren di sejumlah kecamatan yang memiliki potensi lahan dan masyarakat yang siap mengembangkan komoditas tersebut.

Dengan demikian, aren tidak hanya menjadi tanaman tambahan di kebun masyarakat, tetapi berkembang menjadi komoditas ekonomi yang direncanakan dan memiliki nilai strategis bagi daerah.

Aren memiliki berbagai potensi produk. Nira dapat diolah menjadi gula aren, sementara buahnya dapat menjadi kolang-kaling. Produk turunannya juga dapat dikembangkan melalui inovasi UMKM, teknologi pengolahan, pengemasan, hingga branding.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru harus bisa dinikmati masyarakat Pelalawan melalui industri pengolahan,” tegas Maruli.

Karena itu, diperlukan sentra pengolahan aren, rumah produksi, fasilitas pascapanen, pelatihan UMKM, bantuan peralatan, serta standar mutu produk.

Menurutnya, konsep Kota Aren akan sulit berhasil apabila pemerintah hanya fokus pada produksi tanpa memikirkan pasar.

Produk aren Pelalawan harus memiliki merek, kemasan, standar kualitas, sertifikasi dan jaringan pemasaran yang jelas.

Bahkan, kata dia, ke depan produk aren Pelalawan dapat diarahkan menjadi produk unggulan daerah yang dipasarkan ke luar daerah maupun masuk ke pasar nasional.

“Jangan hanya berpikir bagaimana menanam aren. Kita harus berpikir bagaimana menjualnya, siapa pembelinya, bagaimana kemasannya dan berapa besar nilai ekonominya bagi masyarakat,” katanya.

Maruli juga menilai pengelolaan komoditas aren dapat dikaji untuk melibatkan BUMD Tuah Sekata sebagai salah satu lembaga penggerak bisnis daerah.

Menurutnya, pelibatan BUMD secara teknis dapat menjadi pilihan agar pengembangan aren memiliki orientasi bisnis dan dikelola secara profesional.

“Kalau dinas yang mengurus seluruh aspek bisnisnya, tentu ada keterbatasan dan persoalan yang bisa muncul. Karena itu, secara teknis perlu dikaji apakah pengelolaan hilirisasi dan bisnis aren dapat dimasukkan ke BUMD Tuah Sekata agar dikelola secara profesional, transparan dan terukur,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa pelibatan BUMD harus disertai kajian bisnis yang matang, tata kelola yang transparan, pengawasan yang kuat serta target kinerja yang jelas.

Maruli berharap pemerintah daerah tidak menjadikan “Pelalawan Kota Aren” sebatas branding.

Menurutnya, harus ada Roadmap Pelalawan Kota Aren yang memuat:

1. Pemetaan kawasan potensial aren.
2. Penyediaan bibit unggul dan pembinaan petani.
3. Pembentukan kelembagaan atau koperasi petani aren.
4. Pembangunan sentra pengolahan.
5. Penguatan UMKM dan industri turunan.
6. Pelibatan BUMD dalam aspek bisnis secara profesional.
7. Branding dan sertifikasi produk aren Pelalawan.
8. Pembukaan akses pasar regional dan nasional.
9. Kemitraan dengan dunia usaha, perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
10. Sistem pengawasan dan evaluasi yang terukur.

“Kalau semua ini disiapkan, maka Kota Aren bukan hanya nama. Kita sedang membangun sebuah ekosistem ekonomi baru,” ujarnya.

Lebih jauh, Maruli melihat pengembangan aren dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi Kabupaten Pelalawan.

Aren bukan sekadar tanaman. Jika dikelola secara terintegrasi, komoditas tersebut dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan petani, menggerakkan UMKM, melahirkan industri pengolahan dan memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Pelalawan memiliki banyak potensi. Tinggal bagaimana pemerintah berani membangun tata kelola yang serius. Kalau aren dikelola dari hulu sampai hilir, saya yakin ini bisa menjadi salah satu identitas ekonomi baru Pelalawan,” pungkas Maruli. (Sur)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *