Bupati Kang Rey Peduli UMKM Subang, Rencanakan Revitalisasi eks Hotel Plaza Subang

0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Subang, RBO – Di tengah tuntutan percepatan pembangunan daerah, seorang kepala daerah diuji bukan hanya dari seberapa cepat ia membangun infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghidupkan denyut ekonomi rakyat kecil.

Di titik inilah, kepemimpinan Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita yang akrab disapa Kang Rey mulai menemukan relevansinya.

Sejak menjabat pada 2025, Kang Rey memposisikan pembangunan tidak semata pada beton dan aspal.

Memang, percepatan infrastruktur, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan di Puskesmas dan RSUD menjadi prioritas yang tak terbantahkan.

Namun, ada satu sektor yang kerap luput dari sorotan besar, tetapi justru menjadi tulang punggung ekonomi daerah: UMKM.

Keberpihakan Kang Rey terhadap pelaku UMKM tidak berhenti pada jargon. Ia diterjemahkan ke dalam gerakan konkret , mulai dari penguatan ekosistem hingga penyediaan ruang aktualisasi.

Event seperti Subang Fest menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah hadir sebagai fasilitator, bukan sekadar regulator.

Melibatkan komunitas kreatif seperti Subang Creative Hub (SCH), ajang ini bukan hanya hiburan, melainkan mesin perputaran ekonomi rakyat. Transaksi yang “laku keras” di setiap gelaran menjadi indikator sederhana bahwa UMKM diberi panggung yang layak.

Namun, langkah yang lebih strategis dan bisa jadi paling menentukan adalah rencana revitalisasi eks Hotel Plaza Subang.

Bangunan yang berdiri sejak era kolonial ini bukan sekadar aset fisik, melainkan simbol perjalanan sejarah ekonomi Subang. Dahulu merupakan kantor perkebunan milik Inggris, bangunan ini kemudian difungsikan kembali sebagai hotel modern pada tahun 2000.

Sayangnya, usia operasionalnya singkat hanya bertahan hingga 2005, sebelum akhirnya terbengkalai selama hampir dua dekade.

Sejak saat itu, eks Hotel Plaza berubah menjadi ironi di jantung kota: bangunan megah yang kehilangan fungsi, bahkan sempat disebut sebagai “sarang hantu” oleh warga. Ia menjadi saksi bisu dari stagnasi pemanfaatan aset strategis daerah.

 

Kini, di tangan kepemimpinan baru, narasi itu coba diubah. Kang Rey berambisi menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas baru ikon kota yang bukan hanya estetis, tetapi juga produktif.

Lebih dari sekadar revitalisasi fisik, gagasan menjadikan lokasi tersebut sebagai ruang tersentralisasi bagi UMKM adalah langkah progresif yang patut diapresiasi.

Jika terealisasi, ini bukan hanya soal mempercantik kota. Ini tentang mengembalikan fungsi ruang publik sebagai pusat ekonomi rakyat.

Ini tentang menghadirkan keadilan akses bagi pelaku usaha kecil agar tidak terus tersisih oleh arus modernisasi yang kerap elitis.

Namun demikian, optimisme ini tetap harus diiringi kehati-hatian.

Revitalisasi tidak boleh berhenti pada seremoni pembangunan. Pengelolaan, keberlanjutan, hingga keterlibatan pelaku UMKM secara inklusif akan menjadi kunci keberhasilan.

Banyak proyek serupa di berbagai daerah gagal bukan karena gagasannya keliru, melainkan karena eksekusinya tidak konsisten.

Kang Rey telah membuka jalan. Ia mencoba menjawab mimpi lama warga Subang: memiliki pusat kota yang tertata, hidup, dan berpihak pada rakyat.

Pertanyaannya kini bukan lagi pada niat, melainkan pada konsistensi dan keberanian menjaga arah.

Jika UMKM benar-benar ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap maka bukan mustahil Subang akan tumbuh bukan hanya sebagai daerah industri atau pertanian, tetapi juga sebagai pusat ekonomi kreatif yang berakar kuat pada kekuatan lokal. (A. Wahyudin)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *