Akibat Kemarau Panjang, Debit Sungai Anjlok 60 Persen, Perumda Tirta Rangga Subang Siaga
SUBANG, RBO – Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang (Perumda TRS) meningkatkan kewaspadaan menyusul penurunan drastis debit sumber air akibat kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut terpantau saat jajaran Perumda TRS meninjau Unit Pengolahan Air (UPA) Tanjungsiang yang berada di Desa Buniara, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang.
UPA Tanjungsiang mengandalkan air baku dari Sungai Cikembang dan Citombe. Unit ini memiliki kapasitas pengolahan maksimal sekitar 30 liter per detik untuk melayani kebutuhan air sekitar 2.500 pelanggan di Kecamatan Tanjungsiang dan wilayah sekitarnya.
“Sekitar 2.500 pelanggan sangat bergantung kepada kontinuitas dan kondisi air dari sungai yang kami olah,” ujar Dirut Perumda TRS Lukman Nurhakim dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Dalam tiga bulan terakhir, debit sungai disebut mengalami penurunan cukup drastis. Meski demikian, kondisi sumber air hingga saat ini masih memungkinkan proses produksi tetap berjalan.
“Alhamdulillah masih bisa mencukupi untuk produksi, tetapi memang pas-pasan. Jadi kami harus betul-betul memaksimalkan pengolahan, termasuk mengantisipasi kebocoran,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan distribusi air harus dilakukan secara lebih ketat. Kebocoran sekecil apa pun berpotensi memengaruhi kontinuitas pelayanan kepada ribuan pelanggan.
Karena itu, operator di UPA Tanjungsiang diminta meningkatkan kewaspadaan serta memastikan seluruh proses produksi berjalan optimal di tengah keterbatasan debit sumber air.
Perumda TRS juga mengantisipasi kemungkinan kondisi yang lebih serius apabila dalam dua bulan ke depan hujan belum turun dan debit sungai terus mengalami penurunan.
Pasalnya, sumber air baku UPA Tanjungsiang masih sangat bergantung pada kondisi sungai alam.
Kemarau Bikin Air Bening, Hujan Justru Picu Kekeruhan Ekstrem
Selain persoalan debit, perubahan musim juga berdampak terhadap kualitas air baku yang masuk ke UPA Tanjungsiang.
Menariknya, saat kemarau air sungai justru cenderung lebih bening.
Sebaliknya, ketika hujan turun, tingkat kekeruhan air dapat meningkat secara ekstrem sehingga proses pengolahan menjadi lebih berat.
“Kemarau itu sebenarnya kualitasnya bening bagi kami. Saat hujan, keruhnya ekstrem. Kami biasanya kesulitan ketika musim hujan karena sungainya sangat keruh,” ujarnya.
Perumda TRS menilai kondisi Sungai Cikembang dan Citombe saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan lima hingga sepuluh tahun lalu.
Perubahan kondisi alam di wilayah tersebut dinilai turut memengaruhi debit maupun kualitas sumber air.
“Kalau melihat hari ini, debitnya berkurang. Bisa sampai sekitar 60 persen,” katanya.
Meski produksi air masih dapat dipertahankan, penurunan debit tersebut menjadi perhatian serius karena ruang untuk menjaga kontinuitas pelayanan semakin terbatas.
Perumda TRS memastikan pemantauan terhadap kondisi sumber air terus dilakukan. Kesiapsiagaan juga ditingkatkan untuk mengantisipasi apabila debit sungai kembali mengalami penurunan.
“Untuk kondisi produksi ini masih cukup, hanya memang kondisinya cukup mengkhawatirkan. Kami waspada dan siaga kalau debit terus menurun,” pungkasnya. (a. wahyudin)
