Meraih Keberuntungan Dunia-Akhirat

0 0
Read Time:7 Minute, 49 Second

Penulis: Abd.Mukti – Pemerhati Kehidupan Beragama

Setiap manusia tentu ingin hidup beruntung baik di dunia ini lebih-lebih di akhirat. Untuk itu kita jangan bingung apa yang harus dipersiapkan dan diamalkan. Ini panduan dari Al-Quran surat Al-‘ashr untuk menjadi pedoman praktis setiap muslim.

Firman Allah ta’ala :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Kita perhatikan firman Allah diatas. Betapa pentingnya masalah ini, sampai Allah bersumpah (pakai wawu qasam dalam lafadz والعصر) bahwa semua manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang : beriman, beramal shalih, dan mereka yang saling menasehati kebenaran dan kesabaran.

Surat Al-quran ini menekankan pentingnya waktu sebagai modal utama kehidupan untuk meraih keberuntungan di dunia ini dan di akhirat kelak.

Ada empat syarat yang harus dipenuhi seseorang yang ingin meraih keberuntungan, alias kebahagian di alam dunia yang terbatas ini dan alam akhirat yang kekal abadi bisa masuk surga. Dalam surat al-‘ashr itu disebutkan :

Pertama : Iman

Iman ini modal dasar terpenuhinya keberuntungan. Tanpa iman mustahil akan dapat meraih keberuntungan dunia-akhirat.

Iman adalah :

تصد يق باالقلب واقرار باالسان وعمل بالجوارح

“Membenarkan dengan hati,ikrar dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan” iman itu yakin 100 % apa yang terkandung dalam Al-Quran maupun hadits.

Karenanya iman itu akan memotivasi seseorang untuk beramal ibadah dan mencegah berbuat kemaksiatan.

Bagitu vitalnya iman bagi seorang muslim dalam meraih kebahagiaan dunia akhirat. Yaitu :

a.Iman Prasyarat Amal manusia diterima disisi Allah.

Tanpa iman,amalan sebanyak dan sebaik apapun tidak akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا .

“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun.(QS An-Nur : 39).

Subhanallah, amaliyah orang kafir itu laksana fatamorgana ditanah datar. Dari kejauhan dipandang ada airnya tapi setelah didekati tak ada apa-apanya alias kosong. Ini merupakan tamsil orang kafir beramal tapi tak ada nilai pahalanya karena tak beriman.

b.Nilai Iman Sangat Mahal

Menurut Al-Qur’an, nilai keimanan itu lebih mahal dari emas sepenuh bumi. Nilai keimanan (keislaman) ini adalah sama dengan nyawa kita. Al-Qur’an menyatakan,

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ۝٩١

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali Imran 91)

Iman adalah anugerah termahal, lebih berharga dari dunia dan seisinya, karena ia adalah satu-satunya bekal keselamatan di akhirat. Iman tidak bisa dibeli dengan emas sepenuh bumi, melainkan harus diperjuangkan dengan ketaatan, ujian kesabaran, dan menjaga hati dari berbagai fitnah dunia.

c.Penangkal Kemaksiatan

Jika seseorang imannya kokoh, insya Allah akan menjadi penangkal kemaksiatan, sebagaimana hadits ini :

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وزاد في رواية: وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi Saw. Bersabda : Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat : Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman. (Bukhari, Muslim).

Dengan demikian ‘mafhum mukhalafahnya’, jika seseorang imannya luntur, tidak kokoh, akan rentan terjebak dalam kemaksiatan, karena tidak ada daya penangkalnya.

Agar imannya kokoh seseorang harus tekun beribadah, membaca dan merenungkan isi kandungan Al-Quran, rajin dalam majelis ta’lim,dan bergaul dengan orang-orang shalih.

Kedua ; Beramal Shalih

Agar seseorang beruntung dunia akhirat harus tekun beramal shalih atau ibadah. Ini merupakan buah dari iman.

Ibadah itu ada yang wajib dan ada yang sunnah.

Ibadah wajib dalam Islam adalah serangkaian kewajiban yang berdasar pada rukun Islam, yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan berdosa. Ibadah utama meliputi

syahadat, shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, dan haji bagi yang mampu. Ibadah ini mencakup aspek qolbiyyah, lisan, fisik, dan harta.

Ibadah sunnah adalah amalan yang dianjurkan (mustahab) oleh Rasulullah SAW selain ibadah wajib, di mana pelakunya mendapat pahala dan keuntungan yang besar dan yang meninggalkannya rugi besar.

Fungsi utamanya adalah menyempurnakan kekurangan ibadah wajib (shalat, puasa, dll) serta menjadi benteng pelindung agar konsisten menjaga amalan fardhu.

Ketiga ; Saling Wasiat Kebenaran.

Syarat ketiga ini identik dengan tugas dakwah dan amar makruf nahi munkar.

Sebagai muslim yang ingin sukses dunia-akhirat mau-tidak mau harus melaksanakan dakwah dan amar makruf nahi munkar.

Jika kita umat Islam siap melaksanakan tugas diatas، insya Allah akan menjadi umat terbaik, sebagaimana firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran:110).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap muslim wajib beramar makruf nahi munkar, sejalan dengan yang disebut dalam QS Al-‘ashri diatas : saling menasehati kebenaran.

Keempat : Saling Menasehati Kesabaran.

Orang yang sukses adalah orang yang dapat memeneg sikap sabar. Karenanya kita harus ada atensi terhadap kesabaran ini. Diantaranya kita harus mengikuti petunjuk Al-Quran untuk saling ‘menasehati kesabaran’.

Kalau beramal shaleh itu merupakan aspek ‘hablun minallah’, maka saling menasehati sesamanya dalam kebenaran dan kesabaran adalah aspek ‘hablun minannas’.

Karenanya kita manusia bisa dikatakan bertakwa jika ‘hablun minallah’ dan ‘hablun minannas’ dapat dilaksanakan dengan baik sesuai petunjuk syariat Islam.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.(QS.Al Imran ; 112).

Itulah pedomanm praktis QS.Al-‘ashr yang harus kita pelajari dan amalkan untuk meraih keberuntungan dunia-akhirat.

Nashrun Minallah Wa Fathun Qariib.

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *