Ribuan Warga Tumpah Ruah, Midang Jadi Magnet Lebaran di OKI
Ogan Komering Ilir, RBO — Di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, tradisi Lebaran tidak hanya diwarnai hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam, tetapi juga kemeriahan arak-arakan budaya yang dikenal sebagai Midang.
Midang merupakan tradisi berjalan kaki secara beriringan dengan mengenakan busana adat khas Kayuagung, diiringi musik tradisional. Sekilas menyerupai karnaval, namun bagi masyarakat setempat, Midang memiliki makna mendalam sebagai sarana silaturahmi, mempererat hubungan sosial, sekaligus melestarikan warisan budaya turun-temurun.
Tradisi ini digelar setiap tahun pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri. Sebanyak sebelas kelurahan turut ambil bagian, menjadikan jalanan kota sebagai panggung budaya terbuka yang semarak dan penuh warna.
Dalam arak-arakan tersebut, para peserta, khususnya muda-mudi, tampil mengenakan busana adat seperti Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin. Balutan kain songket, selendang, serta hiasan kepala menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Kayuagung.
Rangkaian arak-arakan dimulai dari pembawa tanda kelurahan dan bendera Merah Putih, diikuti anak-anak, para bujang dan gadis, hingga iringan musik tanjidor yang menghidupkan suasana.
Secara umum, Midang terbagi menjadi dua bentuk, yakni Midang Begorok yang digelar dalam hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta Midang Bebuke yang dilaksanakan saat Lebaran dan lebih dikenal luas masyarakat.
Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian penting dalam rangkaian mabang handak, yaitu tahap kesepakatan menuju pernikahan.
Pada momen ini, calon pengantin diarak bersama keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bentuk pengakuan sosial dalam ikatan adat.
Pada Senin (23/3/2026), tradisi Midang Morge Siwe (sembilan marga) digelar di kawasan Pantai Love, tepian Sungai Komering, dan berlangsung meriah.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Edward Candra, serta Bupati OKI, Muchendi Mahzareki.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, baik dari warga lokal maupun perantau yang pulang kampung. Midang menjadi ruang temu yang mempertemukan kembali kenangan dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Edward menegaskan bahwa Midang Morge Siwe bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga.
“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai utama dalam tradisi ini adalah kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur. Bahkan, ia mendorong agar Midang dikemas lebih inovatif agar mampu menarik wisatawan hingga tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, Bupati Muchendi Mahzareki menyebut Midang sebagai kebanggaan masyarakat Kayuagung yang telah diakui sebagai warisan budaya.
“Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong kemajuan sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama perayaan berlangsung.
Kini, Midang tidak hanya menjadi milik masyarakat Kayuagung semata, tetapi telah berkembang menjadi ruang budaya bersama.
Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung sekaligus bukti bahwa warisan leluhur dapat tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.
Lebih dari sekadar perayaan, Midang adalah cara masyarakat menjaga identitas—dan bagi banyak orang, alasan untuk selalu pulang ke kampung halaman. (Nov)
