Polemik MBG di Tegalega Sukabumi: Anggaran Per Siswa Diduga Tak Sesuai Ketetapan
SUKABUMI, RBO – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tegalega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, mulai menuai sorotan. Hal ini terkait nilai paket makanan yang diterima siswa diduga tidak sesuai dengan alokasi anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Program MBG di wilayah ini melayani kebutuhan gizi bagi sekitar 3.500 siswa yang tersebar di 4 Sekolah Dasar (SD) dan 20 lembaga PAUD. Untuk pendistribusian periode Rabu (25/02) dan Kamis (26/02), pihak pengelola membagikan paket “rapelan” sekaligus untuk jatah dua hari.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, siswa kelas 3 ke bawah menerima paket berisi 1 buah Apel (estimasi Rp4.500), 1 bungkus Roti (estimasi Rp2.500), 2 botol/kotak Susu (estimasi Rp7.000), 3 biji Kurma (estimasi Rp1.500) dan 1 bungkus Abon (estimasi Rp3.500).
Jika dijumlahkan, total nilai paket tersebut berkisar Rp19.000 (untuk jatah dua hari). Artinya, rata-rata nilai manfaat yang diterima siswa hanya sebesar Rp9.500 per hari. Sementara untuk kelas 4, 5, dan 6, terdapat tambahan satu butir telur.
Angka ini dinilai jauh di bawah standar anggaran program MBG nasional yang seharusnya dialokasikan sekitar Rp15.000 hingga Rp16.000 per siswa per hari. Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai selisih anggaran yang cukup signifikan.
Kepala MBG Desa Tegalega, Ibu Irem, didampingi pihak akuntan, membenarkan komposisi pembagian paket tersebut saat dimintai keterangan oleh awak media. Namun, rincian teknis mengenai transparansi sisa anggaran belum dijelaskan secara mendalam.
Di sisi lain, pelaksanaan MBG di bulan Ramadhan ini juga mendapat catatan dari para guru dan orang tua siswa. Mengingat sebagian besar siswa menjalankan ibadah puasa, pembagian paket makanan kering dinilai kurang efektif.
Banyak orang tua dan guru yang menyampaikan aspirasi agar di bulan suci ini, alokasi dana tersebut diserahkan langsung dalam bentuk uang tunai kepada siswa.
“Alangkah lebih baik jika di bulan Ramadhan ini dibagikan dalam bentuk uang saja. Itu akan lebih bermanfaat bagi kebutuhan sahur atau berbuka puasa di rumah masing-masing,” ujar salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap adanya pengawasan ketat dari instansi terkait agar program MBG di Kecamatan Lengkong benar-benar tersalurkan sesuai dengan nilai anggaran yang ditetapkan oleh pusat, guna menjamin kecukupan gizi generasi bangsa. (A.Hidayat)
