Karhutla Bukan Sekadar Memadamkan Api, Polres OKI Edukasi Warga dan Gelar Trauma Healing

0 0
Read Time:1 Minute, 53 Second

OKI, RBO — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan ketika api berkobar. Setelah bara padam dan asap menipis, masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat hingga memastikan anak-anak yang terdampak kembali merasa aman.

Hal itu menjadi perhatian Polres Ogan Komering Ilir (OKI) bersama 11 peserta didik Sespim Lemdiklat Polri yang turun langsung ke Kelurahan Perigi, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) dan Kuliah Kerja Profesi (KKP).

Para peserta didik tidak sekadar melihat penanganan karhutla dari dekat. Mereka berinteraksi dengan masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat diingatkan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul. Pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terlebih ketika kondisi lahan kering dan angin bertiup kencang.

Warga juga didorong meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu karhutla.

Namun, kegiatan di Kelurahan Perigi tidak berhenti pada edukasi pencegahan. Anak-anak yang terdampak karhutla turut mendapatkan perhatian melalui kegiatan trauma healing. Para peserta didik mengajak anak-anak berinteraksi dan bermain dalam suasana yang lebih santai.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi rasa takut, kecemasan maupun tekanan psikologis yang mungkin muncul setelah anak-anak mengalami dampak kebakaran dan kabut asap.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat.

“Karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah api muncul, membangun kesadaran masyarakat, dan memastikan masyarakat yang terdampak mendapat perhatian,” ujarnya.

Ia mengatakan keterlibatan 11 peserta didik Sespim Lemdiklat Polri dalam kegiatan PKDN dan KKP menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kompleksitas persoalan karhutla di lapangan.

Dengan demikian, teori yang diperoleh selama pendidikan dapat dibandingkan dengan kondisi nyata yang dihadapi petugas maupun masyarakat.

Penanganan karhutla, kata dia, memiliki banyak sisi. Ada petugas yang berjibaku memadamkan api, masyarakat yang berperan menjaga lingkungan, sekaligus anak-anak yang membutuhkan perhatian setelah mengalami dampak bencana.

Di Kelurahan Perigi, pesan pencegahan disampaikan sebelum api membesar.

Sebab, dalam persoalan karhutla, api kecil dapat berubah menjadi bencana besar. Dan ketika api telah padam, pekerjaan untuk memulihkan rasa aman serta membangun kesadaran masyarakat belum sepenuhnya selesai.(Nov)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *