Jalan Brujul–Buahdua Akhirnya Tersentuh APBN, Warga Harap Kualitas Sesuai Spek
Sumedang, RBO – Peningkatan Jalan Brujul–Buahdua arah Desa Ciawitali, tepatnya di titik Desa Genereh, akhirnya direalisasikan melalui dana APBN 2025–2026. Proyek dengan Nomor Kontrak HK0201-Bb6,10,3/2025/2026 ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp36.173.453.670,00.
Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Lie Jasin Engineering, dengan konsultan pengawas PT Gunung Giri Engineering Consultant. Proyek ini berada di bawah kewenangan Kementerian PUPR (pusat), bukan pemerintah kabupaten.
Jalan penghubung Buahdua–Indramayu ini sudah lama dikeluhkan warga. Berdasarkan keterangan masyarakat, kerusakan parah telah berlangsung sejak era pergantian Bupati dari Don Murdono ke H. Endang sekitar tahun 2010-an.
Banyak Korban Saat Jalan Rusak
Didin, warga asli setempat, menyebut kondisi jalan sebelumnya sangat memprihatinkan. Permukaan berbatu, licin saat hujan, dan berada di kawasan hutan membuat jalur ini rawan kecelakaan.
Menurutnya, lebar jalan sekitar 5,5 meter dengan sistem drainase khusus berbentuk cor (U-ditch/Yudit), lalu dilakukan pengaspalan hotmix.
Ia berharap proyek kali ini benar-benar sesuai spesifikasi teknis agar minimal hingga tahun 2036 kondisi jalan tetap baik.
Didin sendiri juga terlibat sebagai pekerja pada pembangunan TPT (Tembok Penahan Tanah) secara bertahap.
Akses Ekonomi dan Pariwisata Terbuka
Kerusakan jalan selama ini dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Buahdua termasuk kawasan Cipanas. Jalur ini juga digunakan pekerja harian, sekitar enam mobil perusahaan setiap hari melintas dari Desa Hariang, Buahdua, hingga Tanjungkerta menuju Indramayu.
Pasokan pasir dari Cileksa ke Indramayu serta akses menuju zona industri Ujung Jaya–Butom juga sangat bergantung pada jalur ini.
Yudi, tokoh masyarakat sekaligus perwakilan organisasi kemasyarakatan setempat, menyampaikan harapan serupa.
Ia menilai sistem pengawasan proyek pusat lebih ketat dibanding proyek daerah.
Sekretaris Desa Ciawitali menjelaskan bahwa pengaspalan sepanjang kurang lebih 4 kilometer dibagi dua lokasi: 3 km di wilayah Genereh (titik paling rusak), 1 km melewati kantor Desa Ciawitali.
Pemerintah desa berharap jalan ini benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi warga sebagai penerima manfaat utama maupun pengguna umum lintas wilayah.
Proyek bernilai puluhan miliar ini menjadi harapan besar masyarakat setelah puluhan tahun menunggu perbaikan signifikan.
Namun publik tetap berharap transparansi, kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi kontrak, dan pengawasan berkelanjutan agar tidak terjadi penurunan mutu di tengah jalan.
Karena bagi warga, jalan ini bukan sekadar aspal dan beton ,melainkan urat nadi ekonomi, keselamatan, dan masa depan kawasan perbatasan. (Rio)
