Gedung SMPN 2 Wado Memprihatinkan, Ruang Perpustakaan dan Laboratorium Ditutup, Revitalisasi Dinanti

0 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

SUMEDANG, RBO – Kondisi sejumlah bangunan di SMP Negeri 2 Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menjadi perhatian serius.

Di tengah aktivitas pendidikan yang melayani sekitar 302 siswa dari kelas VII hingga IX, kerusakan atap pada sejumlah ruangan memaksa pihak sekolah menutup akses ke ruang perpustakaan dan laboratorium demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Kepala SMPN 2 Wado, Ririn Mulyati, S.Pd.,M.Pd mengungkapkan bahwa kondisi atap kedua ruangan tersebut sudah mengkhawatirkan.

Sejumlah bagian atap mengalami kerusakan, sementara bagian bubungan terlihat melengkung. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan kerusakan pada struktur penyangga atap.

Karena kita khawatir terjadi bencana atau bangunan roboh, lebih baik ruangan dikosongkan,” ujar Ririn saat memberikan keterangan.

Menurut Ririn, pengajuan renovasi sekolah sebenarnya telah dilakukan pada masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya, Cecep Sugiarto, S.Pd. Namun, hingga kini, realisasi perbaikan yang diharapkan pihak sekolah belum terwujud.

Ia berharap program revitalisasi sekolah dapat segera direalisasikan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih aman dan fasilitas pendidikan kembali dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Jangan sampai memakan korban anak didik. Jangan sampai bangunan roboh terlebih dahulu baru ditanggapi secara serius oleh pihak terkait,” harapnya.

Ririn mengaku, sejak mulai menjabat pada Mei lalu, dirinya mendapati sejumlah persoalan yang perlu segera mendapat perhatian, mulai dari kondisi fisik bangunan hingga keamanan lingkungan sekolah.

Ia juga menceritakan bahwa sekolah tersebut pernah mengalami pencurian. Sejumlah peralatan sekolah dilaporkan hilang, termasuk perangkat penunjang pembelajaran berupa proyektor atau infokus. Saat ini, menurut keterangannya, sekolah hanya memiliki satu unit yang tersisa.

Padahal, peralatan tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar mengajar dan membantu guru menyampaikan materi kepada para siswa.

Persoalan keamanan juga menjadi perhatian. Ririn menyebutkan, bangunan sekolah belum dilengkapi teralis pada bagian yang diperlukan, sementara tembok pembatas di belakang sekolah belum tersedia. Kondisi tersebut dinilai membuat lingkungan sekolah relatif mudah diakses dari bagian belakang.

“Kami berharap tembok di bagian belakang dan sebelah kanan sekolah dapat dibangun agar lingkungan sekolah lebih aman,” ungkapnya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, SMPN 2 Wado memiliki potensi prestasi yang patut mendapat dukungan, khususnya di bidang olahraga bola voli dan kegiatan kepramukaan.

Menurut Ririn, tim bola voli sekolah telah menorehkan sejumlah prestasi dan mengumpulkan piala. Namun, keterbatasan fasilitas membuat para siswa selama ini harus memanfaatkan lapangan voli milik sekolah dasar di sekitar lingkungan sekolah.

Lapangan olahraga yang tersedia di lingkungan SMPN 2 Wado saat ini dinilai terlalu kecil apabila beberapa kelas melaksanakan pembelajaran olahraga secara bersamaan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah mulai mengupayakan pembangunan lapangan voli di area tanah belakang sekolah melalui dukungan komite dan swadaya masyarakat.

Rencana itu diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menyediakan fasilitas olahraga yang lebih memadai, termasuk untuk menunjang kegiatan olahraga lainnya.

Ririn berharap potensi bola voli dan kepramukaan dapat terus dikembangkan sehingga mampu meningkatkan semangat belajar, membentuk karakter siswa, serta mendorong prestasi mereka ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau sederajat.

Selain persoalan bangunan dan fasilitas olahraga, pihak sekolah juga menaruh perhatian terhadap kebersihan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah yang berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ririn menyampaikan bahwa pihak sekolah telah menerima kontribusi berupa beberapa tempat sampah dari pihak MBG.

Tempat sampah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan membuat pengelolaan sampah lebih tertata.

Ia berharap dukungan penyediaan tempat sampah dapat terus diperhatikan agar sampah yang dihasilkan dari kegiatan MBG tidak mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Menurutnya, penataan tempat sampah secara rapi di sejumlah titik sekolah merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi para siswa.

Kondisi SMPN 2 Wado memperlihatkan bahwa kebutuhan sekolah tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga menyangkut keselamatan bangunan, keamanan lingkungan, serta ketersediaan fasilitas pendukung pendidikan.

Dengan jumlah siswa sekitar 302 orang, kerusakan atap yang menyebabkan ruang perpustakaan dan laboratorium ditutup perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan teknis dari pihak berwenang.

Langkah tersebut penting untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan serta menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan.

Pihak terkait diharapkan dapat menindaklanjuti kebutuhan revitalisasi berdasarkan hasil pemeriksaan dan skala prioritas, terutama terhadap bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan warga sekolah.

Hingga kebutuhan tersebut terpenuhi, keselamatan siswa dan tenaga pendidik harus tetap menjadi prioritas utama.

Pendidikan yang berkualitas membutuhkan lebih dari sekadar semangat belajar. Bangunan yang aman, fasilitas yang layak, dan lingkungan sekolah yang terlindungi merupakan bagian penting dari hak siswa untuk memperoleh pendidikan yang nyaman dan bermartabat. (Rio)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *