Abdiyanto Fikri Hengkang dari PDI-P, PSI Dapat Aset Politik Besar di OKI
OKI, RBO – Dunia politik Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikejutkan oleh kabar kepindahan politisi senior PDI Perjuangan, Abdiyanto Fikri, ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Jika benar terealisasi sepenuhnya, langkah ini bukan sekadar perpindahan kader biasa, melainkan berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan politik lokal.
Abdiyanto dikenal sebagai figur berpengaruh dengan rekam jejak panjang di legislatif. Ia telah empat periode duduk sebagai anggota DPRD OKI hingga mencapai posisi puncak sebagai Ketua DPRD OKI. Putra asli Tulung Selapan ini juga berperan besar dalam memperkuat dominasi PDI-P di wilayah tersebut.
Di tingkat akar rumput, Abdiyanto memiliki basis massa yang solid, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi lumbung suara PDI-P. Jaringan relawan, tokoh masyarakat, hingga simpul-simpul informal di pedesaan menjadi modal politik yang tidak mudah tergerus hanya karena pergantian partai.
Langkah bergabungnya Abdiyanto ke PSI dinilai sebagai manuver politik berani namun berisiko. PSI dikenal sebagai partai muda yang lebih kuat dalam wacana nasional ketimbang struktur lokal.
Meski memiliki kedekatan simbolik dengan kekuasaan nasional melalui Kaesang Pangarep, PSI di daerah dinilai belum memiliki mesin politik yang benar-benar mapan.
Ketua DPC PDI-P OKI, Febriansyah Wardana, ST, yang juga Wakil Ketua I DPRD OKI, membenarkan kabar tersebut, namun menegaskan bahwa secara administratif kepindahan Abdiyanto belum tuntas.
“Iya, informasinya pindah partai, tapi sampai sekarang belum ada konfirmasi langsung dan belum mengembalikan kartu tanda anggota (KTA) ke sekretariat,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
Sikap tenang PDI-P dinilai cukup rasional. Secara geopolitik lokal, partai berlambang banteng masih menguasai struktur legislatif dan jaringan kader hingga ke tingkat bawah.
Meski kehilangan satu figur penting, dominasi PDI-P belum serta-merta runtuh. Namun demikian, hengkangnya Abdiyanto tetap menjadi alarm serius. Jika langkah ini memicu efek domino bagi politisi lain yang merasa ruang geraknya terbatas, PDI-P bisa menghadapi dinamika internal baru.
Sebaliknya, bagi PSI, Abdiyanto adalah aset strategis. Ia membawa pengalaman legislasi, pemahaman birokrasi, serta legitimasi elektoral yang selama ini menjadi titik lemah PSI di daerah.
Jika dikelola dengan tepat, Abdiyanto berpotensi menjadi motor konsolidasi sekaligus wajah baru PSI di OKI. Namun tantangan utama PSI adalah membangun infrastruktur partai yang kuat. Tanpa mesin politik yang solid, rekrutmen tokoh besar hanya akan melahirkan politik individual, bukan institusi yang mengakar.
Bagi Abdiyanto sendiri, langkah ini menjadi ujian loyalitas konstituen: apakah pemilihnya setia pada sosok atau pada simbol PDI-P. Jika mampu mengalihkan basis massanya, peluang Abdiyanto melangkah ke level legislatif provinsi hingga Senayan terbuka lebar. Sebaliknya, kegagalan dapat membuatnya kehilangan pijakan politik sebelum sempat membangun pondasi baru.
Hingga berita ini diturunkan, Abdiyanto belum memberikan pernyataan resmi. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon belum mendapat respons. Sikap diam ini memicu spekulasi apakah langkah tersebut bagian dari strategi politik senyap atau masih dalam fase konsolidasi internal.
Satu hal yang pasti, suhu politik di OKI mulai memasuki fase cair. Pertarungan politik ke depan tidak lagi semata antarpartai besar dan kecil, melainkan adu kuat antara ketokohan, jaringan, serta kecepatan membaca arah angin kekuasaan. (Nov)
