Allah Tidak Melihat Casingnya

0 0
Read Time:6 Minute, 55 Second

Oleh : Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

Ada kecenderungan sebagian umat Islam saat ini lebih ta’dzim dan hormat kepada kiyai daripada Rasulullah saw sebagai penerima dan pembawa risalah Islam dari Allah swt. Hal ini bisa jadi karena umat terbius dengan penampilan sang kiyai itu berjubah dan sorban.

Jika ada dakwah atau artikel yang disampaikan bersumber dari seorang kiyai lebih itu lebih ‘magnit’ dibandingkan hadis atau sunnah Rasulullah saw.

Mereka masih tertarik dengan penampilan fisik tanpa memperdulikan isinya.
Padahal dalam salah satu hadis Rasulullah saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa (penampilan) kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati kalian dan amal-amal kalian.”( HR.Muslim).

Berdasarkan hadits diatas bahwa Allah menilai kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada ‘casingnya’, penampilan fisiknya ganteng cantik, kaya, pejabat,kiyai dan status sosial lainnya. tapi standarnya pada hati dan amalnya.

Walau penampilan fisiknya memukau, tapi tidak menjadikannya mulia disisi Allah.
Karena derajat termulia disisi Allah Taala adalah taqwallah, bertakwa kepada Allah Ta”ala.
Firman Allah Ta’ala ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Alhujurat :13).

Ikuti Petunjuk Allah dan Rasul-Nya

Umat sering dibuat galau atau bingung dengan tampilnya seorang kiyai atau vidionya yang memotivasi untuk melakukan amalan sunnah.

Tapi amalan itu berselisihan dengan hadits shahih. Kok bisa ? Kasusnya antara lain masalah amalan di rebo wekasan bulan Safar.

Pak kiyai atau vidio yang dishare mengajak kepada umat untuk melakukan amalan untuk tolak bala’ baik itu shalat sunat tolak bala’ atau yasinan dan lainnya,karena ditengarahi Allah menurunkan ribuan bala’ di Rabu Terakhir bulan Safar.

Hal ini berdasarkan ilham seorang wali kasyaf katanya.Padahal Rasulullah saw sudah menegaskan bahwa di bulan Safar tak ada kesialan. Ini hadits nya :
Riwayat Imam Al-Bukhari r.a, Rasulullah Saw bersabda:

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد

“Tidak ada penyakit menular(dengan sendirinya) tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa.” (HR Bukhari).

Hadis ini sebenarnya sudah di share dimedia sosial dalam artikel beberapa kali yang menerangkan bahwa di bulan Safar tidak ada kesialan. Bahkan sudah diterangkan bahwa perasaan sial itu termasuk ‘thiyarah’ salah satu bentuk kesyirikan yang harus dijauhinya.

Tapi walau demikian masih tetap ada di media sosial yang mengajak untuk mempercayai dan melakukan ritual tolak bala’ yang kontra dengan hadis shahih.

Perintah Allah !
Mengikuti sunnah Rasulullah saw itu adalah perintah Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]

Bahkan Rasulullah sendiri menyatakan bahwa selama kita berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah Rasullah saw, kita tidak akan tersesat selamanya. Ini sabdanya :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْن لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكُتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه مالك)

“Telah aku tinggalkan untukmu dua perkara: kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi- Nya.” (HR Malik)

Jika kita dihadapkan satu masalah, maka kembalilah ke Kitabullah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Jika sudah jelas ayat Al-Qurannya, sudah jelas hadisnya melarangnya tapi tetap saja nekad ‘nabrak’ larangan itu, maka hal ini kata Rasulullah dinamakan كبر alias sombong. Mengapa dikatakan sombong ? Karena بطرالحق= menolak kebenaran.

Orang yang sombong ancamannya tidak main-main sebagaimana disebutkan dalam hadits :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrah” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91).

“Tidak Masuk Surga”, inilah ancaman orang yang sombong.

Haditsnya sudah jelas tak ada kesialan di bulan Safar tapi masih tetap ditabrak hanya karena ada “kiyai” yang viral ngajak untuk melakukan amalan tolak bala’ di Rabo Terakhir bulan Safar.

Apapun yang datang dari Allah SWT dan RasulNya Saw kita terima dengan sami’na waatha’na yakni kita perhatikan, kita taati dan laksanakan dengan ikhlas mengharap Ridha Allah SWT.

Simak dan renungkan firman Allah SWT betikut :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al-Ahzab 36).

Pewaris Para Nabi

Kiyai ustadz dan para ulama itu adalah pewaris para nabi sebagaimana dalam hadis :
Diriwayatkan dari Abud-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يورِّثوا دينارا ولا درهما، وإنما ورَّثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر.

“Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham. Akan tetapi, mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud).

Tentu karena pewaris nabi, ulama berperan untuk berdakwah dan menterjemahkan serta menjabarkan ilmu-ilmu syar’i yang diperolah dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.Yaitu ilmu aqidah Islam, syariat, akhlak dan lainnya. Bukan justru menjadi ‘rival’ atau pesaing Rasul. Kalau paham dan amaliyahnya menyelisihi Rasul itu bukan ulama pewaris para Nabi dan Rasul.

Artinya aktifitas dakwah seorang ulama, kiai atau ustaz seharusnya tidak berseberangan dengan isi kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Kalau berseberangan dengan nabi, tentu bukan ulama pewaris nabi tapi ulama sesat jalan.

Na’udzubillahi nindzalik

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *