Ambulans Pasien Darurat Terjebak Macet Parah di Jembatan Timbang Tenayan, Dua Lainnya Pilih Putar
PELALAWAN, RBO – Wajah buruk pelayanan di kawasan Jembatan Timbang Tenayan kembali tersingkap.
Kemacetan parah yang terjadi di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Tenayan Raya KM 24, Pekanbaru, Kamis (7/5/2026), bukan hanya melumpuhkan arus lalu lintas jalur lintas timur Pelalawan–Pekanbaru, tetapi juga menghambat ambulans pembawa pasien darurat.
Ironisnya, saat antrean kendaraan mengular hingga perbatasan Pelalawan, sejumlah petugas di pos timbang justru diduga hanya duduk santai tanpa upaya nyata mengurai kemacetan.
Situasi itulah yang memicu kemarahan sopir ambulans bernama Dedi Azwandi hingga videonya viral di media sosial.
Dalam video berdurasi sekitar dua menit yang kini ramai diperbincangkan publik, terlihat ratusan kendaraan, didominasi truk bertonase besar, memenuhi badan jalan.
Di tengah kepanikan membawa pasien, ambulans yang dikemudikan Dedi tidak mampu bergerak. Dengan emosi memuncak, ia turun dari kendaraan dan mendatangi pos petugas Dishub di kawasan timbang Tenayan.
“Bang, dibantulah macet di sana. Kasihan ambulans pun tertahan,” teriak Dedi kepada petugas.
Namun jawaban petugas justru dianggap normatif dan terkesan saling lempar tanggung jawab. Tidak terlihat adanya tindakan cepat membuka jalur kendaraan prioritas, padahal ambulans sedang membawa pasien yang membutuhkan penanganan segera.
“Abang kan petugas, tolonglah ke sana sebentar. Jangan cuma nungguin ini saja. Pakai hati sedikit, Bang. Ambulans di sana, orang sakit itu terkendala,” ucapnya dengan nada tinggi.
Puncak kekesalan Dedi terjadi ketika ia menilai fungsi pengawasan di jembatan timbang lebih sibuk mengejar pemasukan daerah dibanding memastikan keselamatan dan kelancaran masyarakat pengguna jalan.
“Jangan cuma ngejar PAD, jalan macet. Abang petugas, bisa tolong ke sana sebentar. Ini masih kawasan sini loh,” tegasnya.
Ucapan itu langsung menyentil persoalan klasik yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Kawasan timbang Tenayan dinilai telah lama menjadi biang kemacetan jalur lintas timur, terutama akibat antrean truk yang menumpuk tanpa pengaturan maksimal.
Lebih menyedihkan lagi, Dedi menyebut ada dua ambulans lain yang akhirnya memilih putar balik karena tak sanggup menembus kemacetan.
“Kawan di situ balik, ada dua buah ambulans. Satu lewat tadi, kami masuk dan sekarang macet total sampai perbatasan. Tolonglah Pak, tengok pakai hati,” katanya.
Viralnya video tersebut langsung memantik kemarahan publik. Netizen ramai-ramai mengecam lemahnya respons petugas lapangan yang dinilai kehilangan empati terhadap kendaraan darurat.
Masyarakat menilai kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan macet biasa, melainkan sudah menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Banyak pihak mempertanyakan standar operasional di UPPKB Tenayan ketika kendaraan prioritas seperti ambulans justru ikut terjebak tanpa solusi.
“Kalau ambulans saja tak diberi prioritas, bagaimana pelayanan negara terhadap rakyat?” tulis salah seorang netizen.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada Dinas Perhubungan Provinsi Riau yang dinilai gagal mengantisipasi kemacetan rutin di titik tersebut.
Warga mendesak evaluasi total terhadap sistem operasional jembatan timbang Tenayan, termasuk penempatan personel di lapangan.
Dedi Azwandi yang diketahui merupakan Ketua Rumah Relawan Dhuafa (RRD) Kabupaten Pelalawan bahkan telah menyampaikan langsung keluhan itu kepada anggota DPRD Provinsi Riau, H Abdullah, S.Pd agar persoalan tersebut segera mendapat perhatian serius.
“Dinas Perhubungan Provinsi Riau katanya bukan tugas ya. Panggil pak baiknya dinas ini. Jangan uang dari timbangan saja diambil, tapi ini yang terjadi. Tolong Pak Abdullah,” tulis Dedi.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pelayanan transportasi di Riau. Ketika kendaraan penyelamat nyawa pun tak mampu bergerak akibat buruknya pengaturan lalu lintas, publik mempertanyakan,sebenarnya untuk siapa keberadaan pos timbang itu?. (Sur)
