Dua Cahaya Pendidikan yang Padam di Hari yang Sama
Sumatera Selatan, RBO — Rabu (25/2/2026) menjadi hari penuh duka bagi Sumatera Selatan. Dua sosok dengan peran berbeda dalam dunia pendidikan, namun memiliki benang merah yang sama, wafat nyaris bersamaan: mantan Gubernur Sumsel dua periode Alex Noerdin dan seorang guru sederhana dari Talang Ubi, Sumiati Waluyo.
Jagat media sosial lebih dahulu riuh oleh kabar meninggalnya Alex Noerdin. Nama besar yang tak pernah lepas dari sorotan. Ada yang mencibir karena status hukumnya sebagai terpidana sekaligus tersangka kasus korupsi.
Namun tak sedikit pula yang mengenangnya sebagai pencetus Program Pendidikan Gratis—kebijakan yang pernah mengguncang Indonesia.
Program Pendidikan Gratis pertama kali digaungkan Alex saat menjabat Bupati Musi Banyuasin. Di masa ketika sekolah masih menjadi beban berat bagi banyak keluarga, kebijakan itu hadir sebagai gebrakan. Dengan dukungan anggaran daerah yang kuat dan keberanian politik, ia membuka akses pendidikan tanpa biaya bagi warganya.
Program tersebut bukan hanya membuat iri daerah tetangga—termasuk Muara Enim dan wilayah yang kini menjadi Kabupaten PALI—tetapi juga menjadi batu loncatan politiknya. Ia berhasil menumbangkan petahana Syahrial Oesman dalam pemilihan gubernur Sumatera Selatan.
Ironisnya, Syahrial saat itu dikenal sukses mengangkat nama Sumsel lewat prestasi Sriwijaya FC dengan capaian “double winner”. Namun publik kala itu tampaknya lebih terpikat pada janji pendidikan gratis untuk semua.
Usai terpilih sebagai gubernur, program tersebut diperluas ke seluruh Sumatera Selatan. Kebijakan itu bahkan mengantarkannya menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI—salah satu penghargaan tertinggi di negeri ini.
Namun, kebijakan sebesar apa pun tak akan pernah berjalan tanpa pelaku di lapangan.
Pelaku Sejati di Ruang Kelas. Di sinilah nama Sumiati Waluyo menjadi relevan. Ia bukan pejabat. Bukan tokoh politik. Tak pernah tampil di panggung besar. Ia hanya guru SMP. Puluhan tahun mengabdi di SMPN 1 Talang Ubi dan terakhir dipercaya memimpin SMPN 2 Talang Ubi Talang Akar.
Namun bagi ribuan muridnya, Sumiati—atau yang akrab disapa Bunda Sum—adalah sosok luar biasa.
Ia mengajar di masa ketika fasilitas serba terbatas. Ia menembus jalan berlumpur menuju Talang Akar, menghadapi risiko begal yang kala itu marak, mendorong motor tuanya di tengah hujan deras, dan tetap masuk kelas dengan senyum yang sama: ceria, keibuan, penuh semangat.
Dalam sebuah kesempatan pada 2017, ia pernah bercerita tentang sulitnya akses jalan menuju sekolahnya. Tak ada keluhan. Tak ada penyesalan. Baginya, setiap kesulitan adalah ladang ibadah.
Program Pendidikan Gratis boleh saja menjadi gagasan besar di atas meja kebijakan. Namun di ruang kelas, guru-guru seperti Bunda Sum-lah yang membuatnya nyata.
Di tengah minimnya dana operasional sebelum skema BOS berjalan optimal, guru “dipaksa” kreatif. Guru dituntut bertahan. Dan hanya mereka yang ikhlas yang mampu menjadikan program itu benar-benar dirasakan masyarakat.
Dua Nama, Satu Benang Merah
Hari ini, keduanya telah pergi. Satu dikenal sebagai pencetus kebijakan. Satu lagi sebagai pelaku setia di garis terdepan pendidikan. Tanpa gagasan, tak ada arah. Tanpa pengabdian, tak ada hasil.
Kepergian Alex Noerdin akan selalu dibaca dalam dua sisi: prestasi dan kontroversi. Sementara kepergian Sumiati Waluyo mungkin tak ramai diberitakan nasional. Namun di hati murid-muridnya, ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam arti yang sesungguhnya.
Selamat jalan, Bunda Sum. Murid-muridmu bangga pernah belajar darimu. Selamat jalan, Pak Alex. Rakyatmu pernah merasakan kebijakan yang mengubah hidup mereka.
Rabu siang itu, dua cahaya berbeda redup di waktu yang hampir bersamaan. Namun jejak keduanya, dengan cara masing-masing, akan tetap hidup dalam sejarah pendidikan Sumatera Selatan. (Nov)
