SMK Korpri Sumedang Kembangkan Program Bela Negara dan Ketahanan Pangan

0 0
Read Time:2 Minute, 58 Second

Kepala Sekolah: Pendidikan Tak Hanya Soal Teknologi

Sumedang, RBO – Kepala SMK Korpri Sumedang, Dahlan, memaparkan sejumlah program unggulan yang saat ini tengah dijalankan di sekolahnya.

Program-program tersebut dinilai tidak hanya berfokus pada keahlian teknologi, sebagaimana umumnya sekolah kejuruan, tetapi juga menitikberatkan pada pembentukan karakter, bela negara, serta kecintaan terhadap lingkungan.

Menurut Dahlan, salah satu program unggulan SMK Korpri Sumedang adalah kegiatan bela negara yang dilaksanakan secara rutin setiap satu bulan sekali, tepatnya di akhir bulan. Dalam program ini, para siswa dibekali berbagai materi seperti teori kebangsaan, baris-berbaris, kedisiplinan, serta pengetahuan berlalu lintas.

“Kami menghadirkan langsung instruktur dari unsur TNI dan Polri untuk membangun karakter siswa. Bahkan sampai tata cara makan yang baik pun diajarkan,” ujar Dahlan.

Untuk menunjang program tersebut, pihak sekolah mengalokasikan anggaran khusus, termasuk biaya instruktur sebesar Rp1 juta per bulan.

Selain bela negara, SMK Korpri Sumedang juga mengembangkan ekstrakurikuler cinta lingkungan yang berorientasi pada pemanfaatan sampah dan ketahanan pangan.

Program ini berawal dari permasalahan menumpuknya sampah daun di lingkungan sekolah akibat banyaknya pepohonan.

Sebelumnya, sekolah sempat menjalin kerja sama (MoU) dengan pihak pengelola sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang, dengan biaya Rp250 ribu per bulan. Namun kerja sama tersebut hanya berjalan satu bulan karena berbagai kendala, sehingga sampah tidak lagi diangkut.

Karena sampah tidak terangkut, sempat kami bakar. Bahkan ada warga yang menegur karena terganggu asapnya. Dari situ kami berpikir harus ada solusi, ungkap Dahlan.

Akhirnya, sekolah memutuskan membeli mesin pencacah sampah daun. Sampah yang diolah kemudian dijadikan kompos, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk kegiatan menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, pokcoy, kangkung, hingga melon.

Program ini dilaksanakan secara berkelompok, dengan sistem satu guru membina lima siswa. Setiap kelompok mendapatkan lahan yang harus dikelola secara produktif. Bibit tanaman disediakan oleh sekolah, dan hasil panen sepenuhnya menjadi hak kelompok masing-masing.

Bahkan, untuk memacu semangat, pihak sekolah memberikan hadiah bagi kelompok dengan hasil tanaman terbaik, serta penghargaan di akhir tahun berupa insentif hingga Rp500 ribu bagi guru dan siswa.

Dahlan menjelaskan bahwa proses pembuatan kompos tidak instan. Dari dua karung sampah daun, hasil kompos hanya sekitar seperempat karung dan harus melalui proses fermentasi selama 15 hingga 30 hari agar layak digunakan.

“Kami benar-benar menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan itu ada ilmunya, ada prosesnya, dan hasilnya bisa dimanfaatkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, program ini juga sejalan dengan program nasional ketahanan pangan yang saat ini terus digaungkan pemerintah. Menurutnya, pembekalan keterampilan hidup sangat penting karena tidak semua lulusan SMK nantinya dapat bekerja sesuai cita-cita awal, seperti menjadi PNS, guru, atau aparat negara.

“Kami ingin siswa punya bekal untuk bertahan hidup di masa depan, di situasi yang tidak bisa kita prediksi,” tegas Dahlan.

Terkait sarana prasarana, SMK Korpri Sumedang pada tahun 2025 mendapatkan revitalisasi sebanyak 16 ruang kelas. Meski demikian, masih terdapat beberapa ruang lama yang belum terpakai akibat penurunan jumlah siswa dalam beberapa waktu terakhir.

Dahlan berharap, program-program yang dijalankan saat ini dapat menjadi daya tarik bagi calon peserta didik baru di masa mendatang. Apalagi, menurutnya, fasilitas praktik, olahraga, hingga ruang keagamaan di SMK Korpri Sumedang terbilang cukup memadai.

“Kami sebagai guru terus berupaya memberikan ilmu terbaik, sekaligus membentuk karakter. Anak SMK itu tidak mudah dibentuk, tapi Alhamdulillah perlahan bisa terlihat hasilnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan perubahan kecil namun nyata, seperti penyeragaman warna sepatu siswa menjadi hitam, yang mencerminkan meningkatnya kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan sekolah.

Selain itu, siswa juga diajarkan perawatan tanaman secara tepat, termasuk penggunaan obat tanaman, dampak kekurangan atau kelebihan air, hingga risiko keracunan pestisida.

Ilmunya dapat, hasil tanamannya pun bisa dimanfaatkan. Alhamdulillah, kami sudah dua kali panen cabai, dan hasilnya menjadi hak guru dan siswa, pungkasnya. (Rio)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *