Shalat Kok Terburu-Buru

0 0
Read Time:11 Minute, 17 Second

Penulis: Abd.Mukti (Pemerhati Kehidupan Beragama)

Saat kita shalat pada hakikatnya kita sedang berkomunikasi langsung dengan Allah swt,baik dengan dzikir-qolbi, dzikir- lisan maupun dengan dzikir-fi’li yang sudah diatur dalam sunnah Rasulullah saw.

Allah swt perintahkan hamba-Nya untuk menegakkan shalat karena shalat merupakan wasilah dasar untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكري

” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”(Surat Thaha : 14).

Shalat adalah ibadah yang paling agung dan shalat juga merupakan kompilasi banyak macam ketaatan kepada Allah swt.

Tapi sayang tidak sedikit dari umat Islam yang shalatnya terburu-buru, tidak khusyu’ dan bahkan tidak thuma’ninah. Ada saudara kita yang shalatnya tidak sampai dua menit selesai. Tapi saat berdzikir pasca shalat sampai 20 menit bahkan lebih.

Bukan tidak baik berdzikir panjang dan lama, tapi ingat shalatnya pun jangan terburu-buru. Shalat itu ibadah yang pokok sementara dzikir pasca shalat itu merupakan nilai tambah.

Mengapa mereka terburu-buru saat shalat ? Bisa jadi karena ‘bacaan-bacaan yang sunnah tidak dibaca seperti doa iftitah, surat atau ayat Al-Quran setelah Al-fatihah tidak dibaca.

Tasbih saat ruku’dan sujud membacanya tidak sempurna. Shalawat Nabi ba’da tasyahud baca yang pendek.

Dan bahkan doa sebelum salam yang diajarkan dan dipraktekkan nabi juga tidak dibaca padahal doa permohonan
perlindungan dari azab neraka jahannam dan fitnah hidup dan mati serta fitnah dajjal.

Memang bacaan-bacaan itu hukumnya sunnah.Tapi meninggalkan perkara sunnah itu amatlah rugi besar. Dan jika membacanya dalam shalat pahalanya berlipat-ganda dibanding diluar shalat.

Dalam hadits riwayat Sayyidah Aisyah r.a Rasulullah Saw bersabda,

قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فىِ غَيْرِ الصَّلاَةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى غَيْرِ الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ التَّسْبِيْحِ وَالتَّكْبِيْرِ التَّسْبِيْحُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّوْمِ الصَّوْمُ مِنَ النَّارِ

“Membaca Al-Qur’n di dalam shalat lebih utama dari pada di luar shalat, membaca Al-Qur’an diluar shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir, tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada puasa, dan puasa adalah penghalang dari api neraka.” (HR. Baihaqi).

Masya Allah itulah fadhilah qiraah ayat Al-Quran dalam shalat begitu agung pahalanya.Bahkan dalam kitab Nashaih Ad-Diniyah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَهُوَ قَائِمٌ فِى الصَّلَاةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِائَةَ حَسَنَةٍ وَمَنْ قَرَأَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ فِى الصَّلَاةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ خَمْسُوْنَ حَسَنَةٍ وَمَنْ قَرَأَهُ خَارِجُ الصَّلَاةِ وَهُوَ عَلَى طَهَارَةٍ كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ خَمْسُ وَعِشْرُوْنَ حَسَنَةً وَمَنْ قَرَأَهُ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ كَانَ لَهُ بِكُل حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an di dalam shalat dengan berdiri, maka ia akan mendapatkan 100 kebaikan dalam setiap hurufnya.

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an di dalam shalat dengan duduk, maka ia akan mendapatkan 50 kebaikan dalam setiap hurufnya. Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an di luar shalat dalam keadaan suci (berwudhu), maka ia akan mendapatkan 25 kebaikan dalam setiap hurufnya”

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an di luar shalat dalam keadaan tidak suci, maka ia akan mendapatkan 10 kebaikan dalam setiap hurufnya”.

Betapa ruginya jika shalat tidak membaca ayat atau surat Al-Quran ba’da baca Al-Fatihah pada rakaat awal dan kedua. Pahalanya begitu menggiurkan !

Doa Iftitah

Doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram dalam shalat walau hukumnya sunnah jangan kita tinggalkan. Rasulullah saw mengajarkan dan mengamalkan beberapa doa iftitah, ada yang langsung dari Rasul juga ada ‘sunnah taqririyyah’ tapi mendapat apresiasi Rasul.

Dr.Ustdz.Abdul Somad,Lc.MA, dalam bukunya yang berjudul ” 99 Tanya Jawab Seputar Shalat” (hal 39-46) menukil ada 9 doa iftitah yang diajarkan Rasul.

Doa iftitah itu antara lain :

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin.” (HR. Bukhari 2/182, Muslim 2/98).

Doa ini adalah doa yang paling shahih di antara doa iftitah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (2/183).

Ada doa iftitah ‘sunnah taqriyah’ yakni doa yang dibaca salah seorang sahabat Nabi saat shalat berjamaah tapi mendapat apresiasi Nabi. Ini iftitahnya :

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99).

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. ia berkata :

بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم :
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
من القاءل كلمة كذا وكذا قال رجل من القوم انا يارسول الله قال :
” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك

“Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa iiftitah: (lalu disebutkan doa di atas).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: “siapa tadi yang mengucapkan demikian?” Dia menjawab :” saya ya Rasulullah” maka Rasulullah bersabda :”Aku taajub, dibukakan baginya pintu-pintu langit‘. Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’”.

Doa iftitah ini pendek tapi fadhilahnya begitu dahsyat, sampai Rasulullah takjub dan merekomendasinya. Untuk itu, saat shalat jangan sampai tidak baca doa iftitah walau pendek.

Tasbih dalam Ruku’ dan Sujud

Imam Ahmad bin Hambal menyatakan dalam risalahnya, terdapat riwayat dari Imam al-Bashri bahwa ia berkata:

التسبيح التام سبع والوسط خمس وادناه ثلا ث
“Tasbih yang sempurna itu tujuh, pertengahan itu lima dan yang paling sedikit itu tiga.” (Baca: “99 Tanya Jawab Seputar Shalat” oleh Ustadz Abdul Shomad).

Insyaallah jika ruku’ kita baca tasbih ” سبحان ربي العظيم tiga kali, sudah thuma’ninah; dan jika sujud baca tasbih : سبحان ربي الاعلى tiga kali insyaallah sudah thuma’ninah sebagai salah satu rukun dalam shalat.

Demikian juga bacaan-bacaan yang lain jangan sampai tak dibaca walau hukumnya sunnah seperti doa sebelum salam.

Apalagi bacaan yang wajib atau rukun seperti takbiratul ihram, Al-fatihah, tasyahud akhir, shalawat nabi saw, dan salam, ini harus benar dan tartil. Bacaannya harus sesuai qaidah tajwid, makhrajnya pun harus tepat.

Jika makhrajnya tidak tepat bisa mengubah makna. Seperti bacaan ‘ rabbil ‘alamiin’ -‘alamiin pakai ‘ain yang artinya ‘Tuhan semesta alam. Tapi kalau pakai hamzah artinya ‘Tuhan sumber penyakit’ , na’udzubillahi mindzalik.

Jangan Menjadi Pencuri Shalat

Rasulullah Saw pernah mengingatkan umatnya agar dalam shalat tidak ‘mencuri shalatnya’. Dalam Musnad Imam Ahmad dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalat?”. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya.” (HR. Ahmad).

Na’udzubillahi mindzalik, itulah pencuri dalam shalat. Mereka shalat, tapi saat ruku’ dan sujudnya tidak sempurna alias tidak thuma’ninah.

Padahal seorang mushalli (orang yang sedang shalat) itu sedang muwajjahah atau berkomunikasi langsung dengan Robbnya. Tapi mengapa kok shalatnya terburu-buru, tidak khusyu’ dan tidak thuma’ninah?.

Jika pencuri shalat itu adalah imam shalat, maka ini akan sangat berbahaya karena dapat ‘mengorbankan’ makmum yang ada dibelakangnya, sehingga para ma’mum ini juga shalatnya tidak sempurna.

Karenanya, sebagai seorang imam shalat tidak cukup yang baik bacaannya saja tapi juga yang faqiih dalam agama sehingga mengetahui esensi shalat termasuk paham makna bacaan dalam shalat.

Ada juga seseorang yang shalatnya jelek, oleh Rasul disuruh ngulang sampai tiga kali. Rasul bersabda :

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

(Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya kamu tidak shalat).

Sehingga orang itu menyerah dan minta diajari Rasul. Kemudian Rasul mengajarinya shalat yang benar, sabdanya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dan sertai thumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah dan beriktidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thumakninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thumakninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari, no. 793 dan Muslim, no. 397).

Dalam hadits ini, diterangkan bahwa orang yang jelek shalatnya disuruh mengulangi shalatnya sampai tiga kali oleh Rasulullah Saw, karena shalatnya tidak thuma’ninah, sama artinya belum shalat. Karena thuma’ninah itu salah satu rukun dalam shalat. Kalau rukunnya rusak, maka batallah shalatnya.

Dan apa sebenarnya yang disebut thuma’ninah itu? Menurut Syekh Salim bin Samir Al-Hadrami dalam kitabnya “Safinatun Najah”, thuma’ninah adalah diam sejenak setelah gerakan sebelumnya, kira-kira setelah semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar lamanya waktu setara dengan membaca bacaan kalimat tasbih (subhanallah).

Berdasarkan hadis tersebut, para ahli fikih menyimpulkan setidaknya ada empat gerakan rukun dalam shalat yang wajib thuma’ninah yaitu:
Thuma’ninah ketika rukuk.
Thuma’ninah ketika i’tidal.
Thuma’ninah ketika sujud.
Thuma’ninah ketika duduk di antara dua sujud.

Khusyuk dalam Shalat

Agar kita benar-benar dapat merasakan ‘dzauq’ atau kenikmatan berkomunikasi dengan Allah SWT dalam shalat, tentu kita harus benar-benar khusyuk dalam shalat.

Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka, Allah SWT berfirman ;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun 1-2)

Ulama kontemporer Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir saat menafsirkan surah al-Mukminun ayat 2, yakni “alladzina hum fi shalatihim khasyi’un”, dengan menyatakan:

وهو الخضوع والتذلل لله والخوف من الله تعالى ومحله القلب فإذا خشع خشعت الجوارح كلها لخشوعه إذ هو ملكها

” Khusyuk adalah kepasrahan, kerendahan, rasa takut kepada Allah. Tempatnya di hati. Karenanya, orang yang hatinya khusyuk, tentu semua anggota badannya turut khusyuk. Sebab hatilah yang menguasai seluruh anggota badan (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, juz XVIII, halaman 14).

Salah satu caranya agar shalat kita khusyuk adalah pahami makna bacaan-bacaan shalat.Insya Allah jika paham benar akan membantu kekhusykan shalat kita.

Semoga dengan menegakkan shalat dengan baik, kita akan menjadi hambaNya yang mendapat ampunan Allah dan derajat yang tinggi di sisiNya yakni taqwallah. Aamiin.
Wallahu a’lam.

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *