Nilai Iman Sangat Mahal

0 0
Read Time:11 Minute, 0 Second

Penulis: Abd.Mukti – Pemerhati Kehidupan Beragama.

Iman adalah anugerah Allah termahal, lebih berharga daripada emas sepenuh bumi, karena menjadi kunci keselamatan akhirat dan keridhaan Allah swt.

Iman tidak dapat dibeli dan hanya diberikan kepada hamba yang dipilih. Hidayah iman dan Islam adalah nikmat terbesar, bahkan lebih berharga dari dunia dan seisinya.

Orang kafir yang mati dalam kekafirannya tidak akan bisa menebus diri dengan emas sepenuh bumi sebagaimana firman Allah swt :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ۝٩١

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali Imran 91)

Apa itu iman ?

Secara bahasa iman itu berasal dari kata amana yang berarti percaya atau yakin Dalam Islam, iman adalah keyakinan teguh dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui amal perbuatan.

Iman mencakup rukun iman, dinamis (naik-turun), serta menjadi dasar perilaku yang menuntun pada ketenangan batin dan amal saleh.

Karakteristik Iman itu dinamis, dapat bertambah dan berkurang. Iman meningkat dengan ketaatan kepada Allah dan menurun dengan perbuatan maksiat.

Prasyarat Amal

Tanpa iman,amalan sebanyak dan sebaik apapun tidak akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا .

“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun.(QS An-Nur : 39).

Subhanallah, amaliyah orang kafir itu laksana fatamorgana ditanah datar. Dari kejauhan dipandang ada airnya tapi setelah didekati tak ada apa-apanya alias kosong. Ini merupakan tamsil orang kafir

beramal tapi tak ada nilai pahalanya karena tak beriman

Benteng Kemaksiatan.

Jika seseorang imannya kokoh dan mantap insya Allah akan menjadi benteng dari kemaksiatan, sebagaimana hadits ini :

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وزاد في رواية: وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi Saw. Bersabda : Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat : Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman. (Bukhari, Muslim).

Insya Allah jika seseorang imannya masih lengket kokoh, tidak luntur tidak akan berbuat maksiat. Tapi sebaliknya jika imannya luntur, lemah, akan rentan terjebak dalam kemaksiatan dan kekufuran karena tidak ada benteng penangkalnya.

Seseorang akan berzina, atau mencuri, merampok, konsumsi khamr atau narkoba tapi saat akan beraksi, muncul rasa takut dosa sehingga membatalkan niat jahatnya. Tapi jika hilang rasa rakut dosanya lanjutlah perbuatan melanggar syariat.

Ini menunjukkan bahwa iman seseorang menjadi benteng kemaksiatan.

Seperti contoh yang paling sering terjadi adanya pejabat yang korupsi uang negara. Padahal dia orang kaya milyaran rupiah hartanya tapi masih tetap korupsi.

Penyabab yang paling dominan adalah karena imannya keropos sudah luntur, keyakinan dalam hatinya tentang ancaman dosa korupsi sudah luntur.

Inilah fungsi iman dalam kehidupan kita. Jika kuat imannya semangat dan istiqamah dalam beramal shaleh. Tapi jika imannya lemah malas beramal dan rentan bermaksiat melanggar syariat Islam.

Penentu Masuk Surga dan Neraka

Bentuk iman yang utama adalah tauhid yakni meng-Esakan Allah swt. Karenanya, siapapun yang wafat bertauhid yakni tidak musyrik maka dia masuk surga. Dan sebaliknya, wafat dalam musyrik pasti masuk neraka. Ini hadisnya ;

عن جابر رضي الله عنه قَالَ: جاء أعرابي إِلَى النَّبيّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله، مَا الموجِبَتَانِ؟ قَالَ: ((مَنْ مَاتَ لا يُشْرِكُ بالله شَيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّار)). رواه مسلم.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang mewajibkan itu?”

Beliau shalallahu alahi wasallam bersabda: “Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk neraka.” ( HR.Muslim ).

Hadits ini menegaskan bahwa siapa pun yang wafat dalam keadaan bertauhid (tidak berbuat syirik), maka ia memiliki jaminan masuk surga.

Bisa langsung tanpa transit dulu di neraka. Bisa jadi setelah disucikan terlebih dahulu alias transit dulu di neraka, bila memiliki dosa besar yang belum ditaubati dengan sungguh-sungguh.

Waspadai Kesyirikan

Kalau ada orang cerita syirik atau kesyirikan, janganlah kita selalu terbayang zaman jahiliah dulu saat Abu Jahal dan kaum kafir Quraisy menyembah berhala.

Sebab kalau kita perhatikan zaman now pun tidak sedikit orang-orang yang perilakunya ‘nyerempet-nyerempet’ atau bahkan terjebak dalam lembah hitam kesyirikan.

Sebagaimana yang Allah SWT telah informasikan kepada hambaNya yang termaktub dalam Al-Quran :

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ“

“Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106]

Karena informasinya dari Allah SWT, tak ada yang bisa membantahnya bahwa syirik itu memang ada dan bahkan ada disekitar kita.

Tidak sedikit manusia yang karena mengikuti tradisi atau adat istiadat nenek moyang mereka terjebak dalam kesyirikan.

Aktivitas yang rawan dapat merusak tauhid alias kesyirikan adalah antara lain tradisi mengikuti leluhur yang keliru.

Yaitu antara lain membuat ‘sesaji’ atau sajen yang digunakan sebagai ‘tumbal’ seperti saat bangun rumah pakai sesajen. Saat akan panen padi buat sesajen.

Bersyukur buat sesajen dalam ritual ‘sedekah bumi’ yang dipersembahkan untuk ‘danyang-danyang’ penunggu bumi. Na’udzubillah mindzalik.

Sesajen yang mereka sajikan itu biasannya berupa makanan tertentu dan atau kepala kerbau yang dipersembahkan untuk laut, gunung atau untuk pohon yang dianggap kramat.

Ritual sesajen itu jelas tidak dikenal dalam Islam, tidak ada perintah atau anjuran dalam Al-Quran maupun Hadits.

Kalaulah dalam sesajian itu

diniati makanannya untuk Allah juga salah, alias bid’ah. Karena Allah tidak pernah minta rezeki dan makan kepada makhlukNya, justru Allahlah Yang Memberi rezeki dan makan kepada makhlukNya. Firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُون

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Tidaklah Aku menginginkan rezeki dari mereka dan Aku tidak mengharapkan mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat 56-57.

Kalau ritual sesajen itu dipersembahkan untuk danyang-danyang, jin, setan atau penunggu laut, gunung atau penunggu pohon jelas hal ini perbuatan syirik. Karena beribadah dalam Islam itu hanya kepada Allah SWT.

Kita umat Islam setiap shalat baca ‘iyyaka na’budu waiyyaka nasta’iin’– hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan.

Juga sering kita jumpai adanya ritual ibadah yang justru kontradiksi dengan aqidah Islam tapi pelakunya tidak menyadari bahwa aktivitasnya itu merusak iman seperti ziarah kubur, ini memang dianjurkan oleh nabi tapi karena kurang memahaminya dalam prakteknya ada sebagian masyarakat justru berdoa kepada orang atau wali yang dianggap punya keramat. Atau bertawassul dengan orang yang sudah wafat.

Orang yang berdoa kepada penghuni kubur, meskipun dia berkeyakinan bahwa yang nantinya mengabulkan doa adalah Allah, sejatinya orang ini telah terjebak dalam kesyirikan. Karena perbuatan ini berarti memberikan bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Inilah model kesyirikan masyarakat jahiliyah, sebagaimana yang Allah ceritakan:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. Az-Zumar : 3).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:

فإن غالب الأمم كانت مقرة بالصانع ولكن تعبد معه غيره من الوسائط التي بظنونها تنفعهم أو تقربهم من الله زلفى

“Mayoritas umat manusia yang ada mengakui bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, namun mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah juga sebagai perantara, yang menurut sangkaan mereka bisa memberikan manfaat untuk mereka, atau untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya” (Tafsir Ibnu, Katsir4/482).

Adapun berdoa meminta hajat kepada mayit, ini jelas merupakan kesyirikan. Allah berfirman: ta’ala

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 106).

Ancaman Dosa Syirik

Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam karena tidak memiliki iman. Untuk itu dalam Al-Quran ditegaskan ancamannya :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang ada di bawahnya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisa’: 48)

Dosa syirik ini kalau sampai mati tidak bertobat tidak diampuni Allah Ta’ala.

Jika seseorang berbuat syirik akbar (besar), seluruh amalannya bisa terhapus. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am : 88)

Dalam ayat yang lain ditegaskan bahwa pelakunya diharamkan masuk surga dan tempat kembalinya adalah neraka.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”(QS. Al Maidah: 72).

Begitu dahsyatnya ancaman dosa syirik menunjukkan bahwa nilai iman itu sangat mahal sehingga orang yang rusak tauhidnya alias syirik sangat dimurkai Allah swt.

Karena itulah Allah juga berjanji bahwa orang yang beramal shalih yang dikerjakan seorang mukmin yang murni akan masuk kedalam surga :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk surga.”QS. An-Nisā’ : 124).

Untuk itu setiap muslim harus berupaya menguatkan iman yakni dilakukan dengan meningkatkan ketaatan, menjauhi maksiat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Langkah utamanya meliputi memperbaiki shalat, rajin membaca/tadabbur Al-Qur’an, menuntut ilmu syar’i, berkumpul dengan orang saleh, serta memperbanyak zikir dan berdoa kepada Allah swt.

Nashrun Minallah Wa fathun Qariib.

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *