Kisah Aisyah di Lempuing: Putus Sekolah Setelah Yatim Piatu, Kini Dibantu Pemkab OKI
OKI, RBO — Sudah tiga tahun Aisyah (bukan nama sebenarnya), gadis berusia 13 tahun asal Desa Tanjung Sari I, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tidak lagi mengenyam pendidikan.
Ia terakhir tercatat sebagai siswi kelas V sekolah dasar sebelum akhirnya berhenti sekolah setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sejak saat itu, Aisyah tinggal bersama neneknya, Saimah (69), di sebuah rumah kayu sederhana yang sebelumnya dalam kondisi tidak layak huni.
Kondisi tersebut terungkap saat Bupati Ogan Komering Ilir, Muchendi Mahzareki, bersama Ketua Tim Penggerak PKK OKI, Ike Muchendi, mengunjungi rumah mereka dalam agenda Safari Ramadan, Rabu (4/3/2025).
Dalam perbincangan di rumah itu, diketahui bahwa Aisyah telah lama meninggalkan bangku sekolah.
Dengan suara pelan, ia mengaku enggan kembali belajar karena kerap menerima ejekan dari teman sebaya. Pengalaman tersebut membuatnya merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah.
Ketidakhadiran yang awalnya hanya sesekali lambat laun berujung pada keputusan untuk berhenti sekolah.
Fenomena anak putus sekolah tidak selalu berkaitan dengan persoalan ekonomi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka partisipasi sekolah usia 13–15 tahun di Kabupaten OKI tergolong tinggi, yakni 89,12 persen.
Namun demikian, masih terdapat anak yang terhenti pendidikannya akibat faktor sosial dan psikologis.
Dalam pertemuan tersebut, Muchendi menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan membantu agar Aisyah dapat kembali melanjutkan pendidikan.
“Pendidikan tetap penting, apa pun keadaan keluarga. Pemerintah akan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan agar ia bisa kembali belajar,” ujarnya.
Untuk mengejar ketertinggalan, Aisyah akan didampingi mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A setara sekolah dasar agar dapat menuntaskan jenjang pendidikannya.
Sementara kebutuhan seragam sekolahnya akan dipenuhi melalui program bantuan seragam sekolah gratis dari pemerintah daerah.
Selain memastikan akses pendidikan, Pemerintah Kabupaten OKI juga memugar rumah Saimah melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). Rumah kayu yang sebelumnya rapuh kini diperbaiki agar lebih aman dan layak ditempati.
Bagi Saimah, bantuan tersebut sangat meringankan beban yang selama ini ia tanggung seorang diri.
“Saya hanya ingin cucu saya sekolah lagi, supaya nasibnya lebih baik dari kami,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Ike Muchendi menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam proses tumbuh kembang anak perempuan seusia Aisyah.
“Anak-anak pada usia ini sedang mencari jati diri. Mereka perlu didengar dan didampingi. Kita ingin memastikan ia tumbuh dengan percaya diri dan tidak merasa sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, TP PKK akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, perangkat desa, serta pihak sekolah untuk memberikan pendampingan berkelanjutan, termasuk memastikan kesiapan psikologis Aisyah saat kembali ke bangku pendidikan.
Saat ditanya mengenai keinginannya, Aisyah mengaku masih memiliki harapan untuk kembali belajar.
“Saya sebenarnya ingin sekolah lagi,” ucapnya singkat.
Kisah Aisyah menjadi pengingat bahwa upaya mengembalikan anak ke bangku pendidikan memerlukan pendekatan menyeluruh.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar seperti hunian yang layak melalui program RTLH, pemulihan rasa aman dan kepercayaan diri juga menjadi kunci agar semangat belajar dapat tumbuh kembali. (Nov)
