Kasus Masih Misteri, Orang Tua Desak Polisi Ungkap Benang Kusut Kematian Reihan 

1 0
Read Time:2 Minute, 10 Second

TASIKMALAYA, RBO – Perjuangan Reihan Faras Abadi untuk bertahan hidup akhirnya terhenti. Warga Gunung Salem, Kota Tasikmalaya yang sempat koma selama beberapa hari ini, dinyatakan meninggal dunia di RSUD dr. Soekardjo pada Sabtu (11/04/2026) sekitar pukul 13.40 WIB.

Kepergian Reihan meninggalkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi pihak keluarga. Sejak awal kejadian hari Jumat (03/4) hingga menghembuskan napas terakhirnya selama 9 hari, Reihan tidak pernah sadarkan diri.

Kini, fokus keluarga tertuju pada aparat kepolisian untuk segera mengungkap tabir di balik peristiwa tragis tersebut.

Iwan, ayah almarhum, mengungkapkan bahwa menurut dokter yang menangani, kondisi fisik anaknya saat pertama kali masuk rumah sakit tidak menunjukkan tanda-tanda korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) pada umumnya.

“Kalau kecelakaan, seharusnya ada luka di bagian tubuh lain. Motor juga hanya lecet, tapi ini hanya luka di jari kaki, seperti diseret,” ungkap Iwan dengan nada curiga, Sabtu (11/04).

Selain luka yang janggal, keluarga menduga Reihan telah dicekoki obat-obatan tertentu sebelum ditemukan tak sadarkan diri di wilayah Cimerak.

Kecurigaan ini diperkuat saat dokter menjelaskan kondisi medis korban di ruang ICU yang terus mengeluarkan busa dari mulutnya meskipun sudah mendapatkan penanganan, diduga efek dicekoki obat tertentu sebelum kejadian.

Keluarga menunjuk satu nama yang dianggap sebagai saksi kunci, yakni Geril, pemuda asal Lengkong. Geril diketahui sebagai orang yang membawa Reihan keluar rumah dan orang terakhir yang bersama korban sebelum kondisi kritis terjadi.

Berdasarkan keterangan saksi bernama Ani, Geril sempat mengantarkan Reihan ke rumahnya di Gunung Salem sekitar pukul 02.30 dini hari dalam kondisi sudah lemah. Namun, saat ditanya mengenai kondisi korban, Geril tidak memberikan jawaban jelas.

Kejanggalan lain muncul ketika Geril dikabarkan sempat menolak membawa korban ke rumah sakit dan justru ingin membawanya ke tukang urut di wilayah Kawali, Ciamis, padahal kondisi Reihan sudah sangat memprihatinkan.

Pihak keluarga berharap penuh kepada kepolisian untuk memeriksa Geril secara intensif guna mengungkap fakta yang sebenarnya.

“Kami tidak akan tinggal diam. Ini harus diungkap, karena kami yakin ada yang tidak beres. Kami ingin tahu apakah ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan (pidana),” tegas Iwan.

Secara yuridis, jika ditemukan adanya unsur kesengajaan atau pemberian zat berbahaya yang menyebabkan kematian, kasus ini dapat mengarah pada pelanggaran berat KUHP maupun UU Kesehatan.

Terlebih, adanya jeda waktu penanganan (korban baru diketahui keluarga pada pukul 09.00 WIB) menambah daftar panjang kecurigaan adanya upaya penutupan informasi.

Rencananya, almarhum Reihan akan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Gunung Jati, Bebedahan, Kelurahan Lengkongsari, Kota Tasikmalaya.

Kini, warga sekitar dan pihak keluarga menunggu langkah tegas dari aparat penegak hukum untuk memastikan kebenaran di balik peristiwa ini, agar tidak berkembang spekulasi liar di tengah masyarakat. (Yoga/Candra)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *