Gunakan Sepeda Ontel, Kapolsek Pagaden Keliling Kampung Sambil Bagikan Takjil
Subang, RBO – Suara gemerincing bel sepeda tua memecah keheningan sore di gang-gang sempit Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin (2/3/2026) sore. Di atas sadel sepeda ontel yang kokoh, sejumlah anggota Polsek Pagaden mengayuh perlahan, menyapa warga yang tengah menanti azan Magrib.
Bulan Ramadan kali ini terasa berbeda bagi warga setempat. Tidak ada raungan sirine atau sorot lampu rotator yang kaku. Sebagai gantinya, para aparat berbaju cokelat itu memilih ngabuburit bersama warga dengan cara yang paling sederhana dengan bersepeda kuno.
Pemilihan sepeda ontel bukanlah tanpa alasan. Di balik besi tua yang dikayuh itu, ada pesan tentang kesederhanaan dan upaya meruntuhkan sekat antara aparat dan rakyat. Kapolsek Pagaden AKP Ikin Sodikin menyebut langkah ini sebagai bentuk patroli humanis.
“Kami ingin hadir bukan sebagai sosok yang ditakuti, melainkan sebagai bagian dari masyarakat. Sepeda ontel adalah simbol kedekatan dan kesederhanaan,” ujar Ikin di sela-sela kegiatannya.
Sembari mengontrol situasi keamanan lingkungan, para petugas menyelipkan bungkusan takjil di keranjang sepeda mereka. Setiap kali berpapasan dengan warga, baik petani yang baru pulang dari sawah maupun anak-anak yang bermain di tepi jalan, kayuhan berhenti. Senyum terkembang, dan sebungkus kudapan berbuka berpindah tangan.
Bagi Nurhayati, seorang warga lokal, kehadiran polisi bersepeda ini memberikan warna baru dalam suasana Ramadhan. Ia mengaku kaget sekaligus senang melihat polisi berkeliling hingga ke pelosok kampung tanpa kendaraan dinas yang mencolok.
“Rasanya lebih dekat. Polisi jadi terlihat lebih ramah, suasananya juga tenang dan nyaman. Baru pertama kali ini ada polisi bagi-bagi takjil sampai masuk ke dalam kampung pakai sepeda,” tuturnya dengan rona bahagia.
Kehadiran polisi di tengah pemukiman dengan cara yang santun ini terbukti efektif meredam kecemasan masyarakat akan gangguan ketertiban selama bulan suci. Keamanan tidak lagi dirasakan sebagai sebuah paksaan, melainkan buah dari hubungan harmonis antara penjaga dan yang dijaga.
Kegiatan ini diharapkan konsisten dilakukan demi memupuk rasa saling percaya (trust) yang lebih dalam antara Polri dan masyarakat di akar rumput. (A. Wahyudin/ Yaya.S)
