FTBI 2026 Sumedang Utara: Tunas Bahasa Ibu Bersemi, Budaya Sunda Jangan Sampai Terkikis Zaman
SUMEDANG, RBO — Semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda kembali bergema di Kabupaten Sumedang. Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Kecamatan Sumedang Utara digelar pada Rabu, 2 September 2026, dengan dipusatkan di SD Negeri Paningkiran 1 dan SD Negeri Paningkiran 2.
Sejak pagi, suasana lokasi festival tampak semarak. Antusiasme bukan hanya datang dari para peserta didik yang mengikuti berbagai perlombaan, tetapi juga dari para orang tua yang hadir memberikan dukungan kepada anak-anak mereka.
Berbagai mata lomba digelar mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelajar SD negeri maupun swasta untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Sunda.
Ganjar, S.Pd., Kepala SD Negeri Sukawening sekaligus panitia pelaksana FTBI 2026, mengatakan kegiatan tersebut telah dipersiapkan sekitar dua bulan sebelumnya.
Menurut Ganjar, pihak panitia juga telah melakukan koordinasi dengan sekolah-sekolah dasar di wilayah Sumedang Utara, baik negeri maupun swasta.
“Di Sumedang Utara itu ada sekitar 39 SD, termasuk negeri dan swasta. Sebagian besar sudah mengirimkan peserta untuk mengikuti perlombaan hari ini,” ujar Ganjar.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kecil sekolah yang belum dapat mengirimkan peserta, meskipun pada prinsipnya seluruh sekolah telah direkomendasikan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Ganjar menjelaskan, FTBI bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit unggul yang nantinya dapat mewakili Sumedang Utara pada tingkat Kabupaten Sumedang.
Untuk pelaksanaan tingkat kabupaten, kata dia, kepanitiaannya akan berbeda dan berada di bawah penyelenggaraan tingkat Kabupaten Sumedang yang nantinya dilaksanakan di wilayah Sumedang Selatan.
Menjaga Bahasa Sunda di Tengah Arus Budaya Luar
Ganjar menegaskan, salah satu tujuan utama FTBI adalah menumbuhkan tunas-tunas baru di kalangan pelajar agar bahasa dan budaya Sunda tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
Ia berharap para peserta tidak hanya menjadikan perlombaan sebagai ajang mencari juara, tetapi juga memahami nilai penting menjaga identitas budaya daerah.
“Harapannya muncul tunas-tunas baru dari pelajar SD negeri dan swasta di Sumedang Utara yang bisa terus melestarikan bahasa Sunda dan budaya Sunda. Jangan sampai terkikis oleh budaya-budaya dari luar. Kita harus tetap mempertahankan budaya Sunda,” ungkapnya.
Ganjar juga memberikan apresiasi kepada para orang tua yang hadir langsung mendampingi dan memberikan dukungan kepada anak-anak mereka.
Menurutnya, dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya daerah.
Guru: Jangan Biarkan Generasi Muda Kehilangan Bahasa Sunda
Dukungan terhadap penyelenggaraan FTBI juga datang dari kalangan pendidik. Rika, S.Pd., guru SD Ar Rafi BHS Sumedang yang beralamat di Jalan Danau, menyambut positif kegiatan tersebut.
Menurut Rika, kegiatan seperti FTBI perlu terus dipertahankan karena memiliki nilai pendidikan sekaligus menjadi salah satu cara nyata untuk menjaga budaya kesundaan di tengah perkembangan zaman.
“Acara seperti ini harus dipertahankan bagi anak-anak SD, karena untuk melestarikan budaya kesundaan,” ujar Rika.
Ia menilai generasi muda saat ini perlu mendapatkan pendidikan dan pembiasaan agar mampu mengenal serta menggunakan bahasa Sunda.
“Anak-anak muda sekarang juga harus tetap bisa dan cakap dalam budaya Sunda. Bahasa Sunda juga harus bisa. Jangan hanya orang-orang terdahulu yang mengerti bahasa dan budaya Sunda,” katanya.
Rika berharap FTBI tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, festival tersebut harus terus dikembangkan dan dilaksanakan secara berkelanjutan agar kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya Sunda semakin kuat.
Bukan Sekadar Lomba, FTBI Menjadi Benteng Identitas
Semarak FTBI 2026 di Sumedang Utara memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui slogan.
Anak-anak perlu diberikan ruang untuk mengenal, mempraktikkan, dan menunjukkan kemampuan mereka dalam bahasa serta seni budaya daerah.
Di tengah derasnya arus budaya global, FTBI menjadi salah satu ruang penting untuk memastikan bahasa Sunda tetap memiliki tempat di hati generasi muda.
Sebab, ketika bahasa ibu mulai ditinggalkan oleh generasinya sendiri, yang perlahan hilang bukan hanya sebuah bahasa, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Sunda. (Rio)
