Tangis Balita Nyaris Tak Terdengar, Alam Pertaruhkan Nyawa Terobos Kobaran Api

0 0
Read Time:2 Minute, 53 Second

OKI, RBO — Kobaran api yang melalap dua rumah warga dan satu bangunan sarang burung walet di Sungai Pedade, Desa Simpang Tiga Jaya, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Jumat (28/8/2026), menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.

Namun, di balik musibah tersebut, tersimpan kisah heroik seorang warga bernama Alam. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, Alam nekat menerobos kobaran api setelah mengetahui masih ada seorang balita yang terjebak di dalam rumah.

Balita bernama Sirah, yang diperkirakan berusia sekitar dua tahun, saat kejadian sedang berada di dalam rumah dan nyaris menjadi korban kebakaran.

Api yang semakin membesar membuat situasi sangat berbahaya. Namun Alam tidak banyak berpikir. Ia langsung menerobos masuk ke rumah yang telah dipenuhi kobaran api.

“Insting saya mengatakan ada orang yang terjebak di dalam rumah. Saya tidak banyak berpikir panjang, langsung masuk,” ungkap Alam.

Benar saja, setelah berada di dalam rumah, Alam melihat seorang anak kecil sedang duduk sambil menangis. Kondisinya sangat mengkhawatirkan karena suara tangisnya nyaris tidak terdengar.

“Saya melihat ada anak kecil duduk sambil menangis, tetapi tidak ada suaranya. Langsung saya bawa keluar,” tuturnya.

Keputusan Alam ternyata berpacu dengan waktu. Begitu dirinya berhasil keluar sambil menggendong Sirah, bangunan rumah tersebut langsung roboh dan api semakin membesar.

“Kalau terlambat sedikit saja, rumah itu sudah roboh. Saat saya sudah keluar sambil menggendong Sirah, rumah itu langsung roboh,” ujarnya.

Keberanian Alam akhirnya menjadi penyelamat bagi nyawa Sirah.

Musibah tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga Sirah. Menok, nenek Sirah, mengatakan cucunya selama ini tinggal bersamanya karena kedua orang tua Sirah, Mela dan Heru, sedang mencari nafkah di Bangka.

“Sirah itu cucu saya. Nama ibunya Mela dan bapaknya Heru. Mereka mencari nafkah di Bangka, sehingga Sirah tinggal bersama saya,” kata Menok.

Sebagai seorang nenek, Menok mengaku tidak sanggup melihat kondisi cucunya setelah berhasil diselamatkan.

“Rasanya teriris hati saya melihat cucu saya. Sekujur tubuhnya penuh luka bakar,” ucapnya dengan penuh kesedihan.

Kini keluarga hanya bisa berharap Sirah mendapatkan perawatan terbaik dan segera diberikan kesembuhan.

LSM Permak: Alam Layak Disebut Penolong

Atas keberanian tersebut, LSM Permak menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Alam yang telah mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk menyelamatkan Sirah.

“Kami dari LSM Permak mengucapkan ribuan terima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengirimkan seorang penolong bernama Alam. Dengan keberaniannya menerobos kobaran api, balita yang terjebak di dalam rumah akhirnya berhasil diselamatkan,” ujar perwakilan LSM Permak.

Menurut mereka, tindakan Alam merupakan bentuk kepedulian dan keberanian seorang warga terhadap sesama.

“Kami mewakili pihak korban mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pak Alam yang telah menyelamatkan nyawa Sirah. Semoga segala kebaikannya mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT,” lanjutnya.

LSM Permak juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat, sanak saudara dan handai taulan yang telah memberikan bantuan kepada keluarga korban.

“Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada sanak saudara, handai taulan dan masyarakat yang telah membantu saudara kita yang ditimpa musibah. Semoga amal kebaikan bapak dan ibu sekalian mendapat balasan yang setimpal,” katanya.

Pihaknya juga mengajak pemerintah daerah, masyarakat dan para dermawan untuk membantu meringankan beban keluarga korban.

Bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan, donasi dapat disalurkan melalui:

DANA: 081270647609
Atas Nama: Naya Apriansyah

Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi keluarga korban yang kini harus menghadapi kehilangan tempat tinggal sekaligus merawat Sirah yang mengalami luka bakar akibat musibah tersebut.

Kisah Alam menjadi pengingat bahwa di tengah kepanikan dan kobaran api, keberanian seorang warga dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati. Ia menerobos api ketika orang lain mungkin memilih menjauh—dan beberapa detik saja bisa menentukan nasib seorang anak. (Nov)

About Post Author

redi setiawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *