Pembangunan Revitalisasi TK Al-Mawardy Majalengka Diduga Asal-asalan
Majalengka, RBO – Program revitalisasi ratusan bangunan sekolah di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menuai sorotan warga.
Salah satunya terjadi pada pengerjaan rehabilitasi di TK Al-Mawardy, Kampung Yudasari, Desa Ranjikulon, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka.
Pengerjaan proyek di sekolah tersebut diduga dilakukan secara asal-asalan dan tidak sesuai dengan standar teknis yang telah ditentukan.
Berdasarkan keterangan salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, hasil pengerjaan fisik di lokasi dinilai tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang dialokasikan dari pemerintah pusat.
“Masa anggaran sebesar itu pengerjaannya cuma seperti itu. Kalau saya yang mengerjakan, anggaran sebesar itu bisa untuk membangun dari nol,” ujar warga tersebut kepada awak media.
Menanggapi tuduhan tersebut, awak media mendatangi TK Al-Mawardy untuk meminta klarifikasi langsung. Kepala TK Al-Mawardy, Irma, tidak menampik beberapa poin pengerjaan yang menjadi sorotan.
Terkait penggunaan tenaga kerja untuk pemasangan rangka baja ringan yang disyaratkan menggunakan tenaga ahli bersertifikat, Irma mengonfirmasi bahwa pihaknya memanfaatkan warga lokal.
“Untuk pelaksana pemasangan baja ringan memang tidak menggunakan tenaga ahli atau tukang bersertifikat sesuai aturan, karena biayanya kemahalan, Pak. Jadi kami menggunakan tenaga warga setempat saja yang terlihat ahli di bidangnya,” terang Irma.
Selain masalah tenaga kerja, beberapa temuan fisik di lapangan juga menjadi pertanyaan, di antaranya:
Pengadaan Kusen/Jendela: Terpasangnya bouplicht (jendela ventilasi) kayu di sisi selatan bangunan yang disinyalir tidak tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Terkait hal ini, Irma berdalih hal tersebut sengaja dilakukan agar pencahayaan alami dari luar tetap masuk.
Kualitas Cor Balok Selasar: Struktur as balok selasar terlihat kurang rapi, di mana besi tulangan dan material coran batu masih tampak menonjol. Irma menjelaskan bahwa adonan cor dibuat secara manual tanpa mesin pemutar adonan (molen). Ia berjanji bagian tersebut akan segera dirapikan.
Material Genteng: Penggunaan genteng yang disinyalir berkualitas KW 2 atau KW 3. Menjawab hal itu, Irma beralasan ingin menyerap produk lokal mengingat lingkungan sekitar sekolah dikelilingi oleh industri genteng rumahan.
Di sisi lain, proses pengawasan pengerjaan proyek ini diduga kurang optimal. Pihak Panitia Pembangunan Sekolah (P2SP) tercatat hanya mengawasi pengerjaan selama beberapa hari sebelum ketua P2SP berangkat menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Irma menyarankan awak media untuk mengonfirmasi detail teknis pengerjaan lebih lanjut setelah ketua P2SP kembali dari ibadah umrah. Sementara itu, untuk pengawas dinas terkait, kedatangan ke lokasi dilaporkan hanya terjadi sekitar satu kali dalam seminggu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait dan instansi dinas pendidikan setempat belum memberikan keterangan resmi tambahan terkait dugaan pelanggaran petunjuk teknis (juknis) pada proyek revitalisasi di TK Al-Mawardy tersebut. (M.Yahya)
