Meraih Kesuksesan, Penuhi Empat Kriteria Ini !
Penulis: Abd.Mukti – Pemerhati Kehidupan Beragama
Setiap manusia tentu ingin hidup sukses menuju keberuntungan baik di dunia ini lebih-lebih di akhirat. Untuk merealisasikannya kita ikuti petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw secara istiqamah.
Salah satu petunjuk dan pedoman itu antara lain dalam Al-Quran surah Al-‘ashr sebagai berikut :
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
Kita perhatikan firman Allah diatas. Betapa pentingnya masalah ini, sampai Allah bersumpah (pakai wawu qasam dalam lafadz والعصر) dan pakai huruf inna dan lam ta’kid pada kata ‘al-insan’ dan kata ‘lafii khusrin’ (penekanan), bahwa semua manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan mereka yang saling menasehati kebenaran dan kesabaran.
Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal.
Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
“Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu.
Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Ada empat kriteria yang harus dipenuhi seseorang yang ingin meraih sukses menuju keberuntungan alias kebahagian di alam dunia yang terbatas ini dan alam akhirat yang kekal abadi bisa masuk surga.
Pertama : Iman
Iman ini modal dasar terpenuhinya keberuntungan. Tanpa iman mustahil akan dapat meraih keberuntungan dunia-akhirat.
Imam Asy-Stafi’i dan Imam Al-Bukhari mendefinisikan iman sbb.: ”
تصديق بالقلب وإقرار باللسان وعمل بالأركان
“meyakini dengan hati diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan”(NU Online). iman itu yakin 100 % apa yang terkandung dalam Al-Quran maupun hadits.
Karenanya iman itu akan memotivasi seseorang untuk beramal ibadah dan mencegah berbuat kemaksiatan.
Bagitu vitalnya iman bagi seorang muslim dalam meraih kebahagiaan dunia akhirat. Ini urgensitas iman bagi setiap muslim ;
a. Iman Prasyarat Amal manusia
Tanpa iman,amalan sebanyak dan sebaik apapun tidak akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا .
“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun.(QS An-Nur : 39).
Subhanallah, amaliyah orang kafir itu laksana fatamorgana ditanah datar. Dari kejauhan dipandang ada airnya tapi setelah didekati tak ada apa-apanya alias kosong. Ini merupakan tamsil orang kafir beramal tapi tak ada nilai pahalanya karena tak beriman.
b. Nilai Iman Sangat Mahal
Menurut Al-Qur’an, nilai keimanan itu lebih mahal dari emas sepenuh bumi. Nilai keimanan (keislaman) ini adalah sama dengan nyawa kita. Al-Qur’an menyatakan,
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ٩١
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali Imran 91)
Iman adalah anugerah termahal, lebih berharga dari dunia dan seisinya, karena ia adalah satu-satunya bekal keselamatan di akhirat. Iman tidak bisa dibeli dengan emas sepenuh bumi, melainkan harus diperjuangkan dengan ketaatan, ujian kesabaran, dan menjaga hati dari berbagai fitnah dunia.
c. Benteng Kemaksiatan
Jika seseorang imannya kokoh, insya Allah akan menjadi benteng kemaksiatan, sebagaimana hadits ini :
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وزاد في رواية: وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
” Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi Saw. Bersabda : Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat : Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman. (Bukhari, Muslim).
Dengan demikian ‘mafhum mukhalafahnya’, jika seseorang imannya luntur, tidak kokoh, akan rentan terjebak dalam kemaksiatan dan kekufuran karena tidak ada benteng penangkalnya.
Agar imannya kokoh seseorang harus tekun beribadah,baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial; membaca dan merenungkan isi kandungan Al-Quran; rajin dalam majelis ta’lim, karena orang yang dikehendaki Allah menjadi orang baik harus memahami dinul Islam
sebagaimana hadits Rasulullah :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan)
Jadi bukan harta dan jabatan untuk meraih keberuntungan dunia-akhirat, tapi paham akan dinul-Islam. Dengan memahami dinul-Islam seorang muslim akan dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, antara yang sunnah dengan yang bid’ah.
Selanjutnya agar imannya kokoh senang bergaul dengan orang-orang shalih. Orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Kedua ; Beramal Shalih
Agar seseorang beruntung dunia akhirat harus tekun beramal shalih atau ibadah. Ini merupakan buah dari iman.
Ibadah itu ada yang wajib dan ada yang sunnah.
Ibadah wajib dalam Islam adalah serangkaian kewajiban yang berdasar pada rukun Islam, yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan berdosa.
Ibadah utama meliputi
syahadat, shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, dan haji bagi yang mampu. Ibadah ini mencakup aspek qolbiyyah, lisan, fisik, dan harta.
Ibadah sunnah adalah amalan yang dianjurkan (mustahab) oleh Rasulullah SAW selain ibadah wajib, di mana pelakunya mendapat pahala dan keuntungan yang besar dan yang meninggalkannya rugi besar.
Fungsi utamanya adalah menyempurnakan kekurangan ibadah wajib (shalat, puasa, dll) serta menjadi benteng pelindung agar konsisten menjaga amalan fardhu.
Ketiga : Saling Wasiat Kebenaran.
Yakni saling menasehati untuk menjalankan kebenaran, yaitu berupa keimanan dan keesaan Allah, dan menegakkan syariat-Nya, serta menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah saw dalam haditsnya menerintahkan setiap muslim untuk menyampaikan kebenaran walau sedikit. Ini haditsnya ;
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَة
‘Sampaikanlah dariku (Nabi Muhammad SAW) walau hanya satu ayat”, (HR.Al-Bukhari).
Hadits ini memotivasi umat Muslim untuk berdakwah, menyebarkan ilmu agama, atau kebaikan meskipun sedikit. Kalimat ini menekankan pentingnya berbagi pengetahuan agama yang benar secara konsisten.
Keempat : Saling Menasehati Kesabaran.
Saling menasehati kesabaran, yakni menasehati supaya menepati kesabaran yakni bersabar dalam menjauhi kemaksiatan dan menjalankan kewajiban, serta bersabar atas ketetapan Allah yang menyakitkan
Setiap Muslim pasti diuji oleh Allah SWT untuk membuktikan keimanan, menggugurkan dosa, dan meningkatkan derajat. Ujian adalah sunnatullah (ketetapan) yang mencakup rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, hingga penyakit.
Ujian tidak selalu berupa keburukan, bisa juga berupa kesenangan yang menguji rasa syukur. Saat saudara kita mendapat ujian, maka disinilah peran kita sebagai muslim untuk memberikan nasehat agar sabar dan tabah menghadapinya.
Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar.
Kalau kita perhatikan kriteria ketiga dan keempat ini identik dengan tugas dakwah dan amar makruf nahi munkar.
Tugas ini wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim sebagaimana hadits Rasulullah saw
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Kemungkaran, kemaksiatan dan kezaliman akan selalu muncul di dunia ini. Dan ini merupakan sunnatullah. Karenanya kita tak boleh diam apalagi bagi para asatidz, ulama wajib untuk beramar makruf nahi munkar.
Kalau seorang muslim diam atas kemungkaran yang nampak didepan mata , maka ini yang disebut ‘setan bisu’ sebagaimana yang disampaikan oleh seorang ulama salaf, Abu Ali ad-Daqqaq An-Naisaburi Asy-Syafi’i ,Kata dia:
الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق
“Orang yang diam dari kebenaran itu adalah SETAN BISU, namun orang orang bicara dengan kebatilan itu adalah juru bicara syetan.(An-Nawawi, Syarah Muslim).
Jika jika menjadi cap atau stempel kemungkaran itu namanya الشيطان الناطق yakni juru bicara syetan, na’udzubillahi mindzalik.
Itulah pedomanm praktis QS.Al-‘ashr dan hadits yang harus kita pelajari dan amalkan untuk meraih kesuksesan dunia-akhirat.
Nashrun Minallah Wa Fathun Qariib.
