Kepala BLK Subang Ungkap Satu Program Pelatihan di Tahun Anggaran 2026
SUBANG, RBO – Antusiasme masyarakat Subang untuk meningkatkan keterampilan kerja dalam menyambut pengembangan Kawasan Rebana dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus meningkat. Investasi di Subang tinggi, namun keterbatasan anggaran menjadi tantangan serius dalam mengakomodasi tingginya minat tersebut.
Kepala UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Disnakertrans Subang, Syauqi, mengungkapkan, pada 2026 pihaknya hanya memiliki satu program pelatihan yang bersumber dari APBD, yakni pelatihan operator forklift dengan kuota 35 peserta dan pagu anggaran sebesar Rp210 juta.
“Untuk tahun ini hanya ada satu pelatihan forklift dengan jumlah peserta 35 orang, sementara jumlah pendaftar mencapai 1.856 orang,” ungkapnya saat diwawancarai RBO.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada penambahan anggaran untuk memperluas program pelatihan kerja, meski kebutuhan tenaga kerja terampil semakin mendesak seiring hadirnya kawasan industri baru yang berfokus pada sektor otomotif di wilayah Rebana.
Menurutnya, program pelatihan kerja memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing dan terserap di dunia industri.
“Kami ingin calon tenaga kerja dari Subang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Jangan sampai masyarakat kita hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” ujarnya.
Syauqi berharap pemerintah dapat memberikan dukungan anggaran yang lebih besar agar pelatihan kerja dapat menjangkau lebih banyak peserta, sehingga masyarakat lokal memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Sebelumnya, pada 2025 BLK Subang melaksanakan sejumlah program pelatihan dari berbagai sumber anggaran. Dari APBD, terdapat empat program pelatihan, yakni forklift (dua kelas), security (dua kelas), bahasa Mandarin (dua kelas), dan bisnis manajemen (dua kelas).
Selain itu, melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT), digelar tiga program pelatihan, yaitu garmen (dua kelas), servis motor injeksi (dua kelas), serta pembuatan roti dan kue (dua kelas).
“Dari APBN, terdapat dua program, yakni pelatihan bisnis manajemen sebanyak empat angkatan dari Kementerian Ketenagakerjaan serta pelatihan pengelasan (las) dari BP2MI,” kata Syauqi. (A. Wahyudin)
