Jembatan Cikanyere Kembali Terancam: Baru Dikeruk, Kini Tertimbun Lagi — Warga Khawatir Banjir Susulan
Sumedang, RBO — Awak media meninjau langsung kondisi Jembatan Cikanyere di Desa Cipelang, yang sebelumnya viral pada 27 Maret 2026 saat dilintasi Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir dalam kondisi banjir.
Saat ini, kondisi jembatan terlihat normal dan tidak tergenang. Debit air relatif kecil dan arus tampak tenang. Secara kasat mata, jembatan terlihat aman dan tidak menunjukkan tanda-tanda darurat.
Namun, fakta di lapangan berkata lain. Salah satu warga, Abah Bari, mengungkapkan bahwa banjir di jembatan tersebut bukan kejadian baru.
“Sering sekali air meluap sampai melewati jembatan. Sangat bahaya untuk pengguna jalan,” ujarnya, Rabu (01/04/2026).
Jembatan Cikanyere sendiri merupakan akses jalan kabupaten yang cukup vital, menghubungkan wilayah Conggeang menuju Ujungjaya melalui Desa Cipelang. Tingginya mobilitas warga membuat potensi bahaya semakin besar ketika banjir terjadi.
Kepala Desa Cipelang, Dede Erik Hendraji, yang baru dilantik pada 25 Februari 2026, juga membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa secara historis, jarak antara dasar sungai dan jembatan dulu mencapai sekitar 3 meter.
“Dulu, saat air surut, orang bahkan bisa beraktivitas di bawah jembatan. Sekarang hampir sejajar dengan lantai jembatan,” jelasnya.
Menurutnya, pendangkalan sungai akibat material tanah, pasir, dan kerikil menjadi penyebab utama. Kondisi ini membuat air dengan mudah meluap meski hanya diguyur hujan dengan intensitas ringan.
Pemerintah desa, lanjut Erik, sebenarnya telah berulang kali mengajukan normalisasi sungai, bahkan sejak kepemimpinan kepala desa sebelumnya. Namun hingga kini, penanganan dinilai belum memberikan dampak signifikan.
Ironisnya, normalisasi yang baru saja dilakukan pasca kunjungan bupati—ditandai dengan pengerukan menggunakan alat berat—tidak bertahan lama.
“Baru minggu lalu dikeruk, sekarang sudah penuh lagi. Material terus datang dari hulu,” ungkapnya.
Ia menduga, material tersebut berasal dari aktivitas pembangunan Tol Cisumdawu yang berada sekitar 2 kilometer di hulu sungai. Saat hujan turun, material terbawa arus dan mengendap di sekitar jembatan.
“Dulu sebelum ada tol, tidak separah ini. Sekarang setiap hujan pasti membawa material,” tambahnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas penanganan yang hanya dilakukan di hilir tanpa pengendalian di bagian hulu.
Lebih lanjut, Erik menilai bahwa solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan normalisasi. Ia mendorong adanya peninggian struktur jembatan agar mampu menyesuaikan dengan kondisi sungai saat ini.
Namun, harapan tersebut belum mendapat kepastian. Menurut informasi yang diterimanya, pada tahun anggaran 2026 ini belum terdapat alokasi dana untuk perbaikan Jembatan Cikanyere. Sementara itu, anggaran justru dialokasikan untuk jembatan lain yang kondisinya sudah miring.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat intensitas hujan yang masih tinggi. “Kalau tidak segera ditangani, saya khawatir kondisinya akan semakin parah,” tegas Erik.
Dengan kondisi sungai yang kembali tertimbun pasca normalisasi dan potensi banjir yang terus mengintai, Jembatan Cikanyere kini menjadi simbol persoalan klasik: penanganan sementara tanpa solusi menyeluruh.
Publik kini menunggu, apakah peringatan ini akan direspons cepat oleh pemerintah kabupaten, atau kembali menjadi catatan panjang yang terabaikan. (Rio)
